Archive for the ‘customer relationship’ Category


Maaf, saya begitu lama menelantarkan blog ini. Bukan karena lagi bete, tetapi memang ada banyak hal yang harus saya kerjakan termasuk menulis beberapa buku lagi

kali ini saya ingin mengajak Anda, pengunjung sekaligus sahabat saya untuk mencermati sepak terjang gubernur DKI yang unik ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Joko Widodo alias Jokowi.

Terus terang saya sedang menyusun sebuah buku yang “menuduh” Mr. Jokowi sebagai seorang yang radikal. Ups..tenang…radikal disini bukan seseorang yang mau pasang bom untuk menghancurkan kehidupan, namun lebih jauh dari itu. Saya dengan senang “menuduh” Jokowi adalah seorang marketer sekaligus leader yang radikal.

Dasarnya apa saya menuduh bahwa Jokowi seorang pemimpin dan pemasar yang radikal? Ya..karena apa yang dia lakukan persis seperti para pemasar sekaligus pemimpin bisnis dunia yang menerapkan gaya pemaaran radikal.

Nah, berikut ini adalah salah satu bab yang saya tulis dalam sebuah buku mengenai Jokowi dan gaya kepemimpinannya. Berikan feedback ya..saya sangat membutuhkannya. Selamat membaca!

The BLUSUKAN WAY

Bagi para pemasar radikal yang sekaligus berperan sebagai seorang pemimpin, data-data yang diperoleh dari “tangan kedua” tidaklah begitu menyenangkan. Mereka lebih suka memperoleh data langsung dari mulut para pelanggan. Sementara itu Para pemasar tradisional cenderung lebih senang dengan data-data sekunder yang mereka peroleh. Dari balik meja mereka yang kinclong, mereka akan mengolah data-data itu menjadi sebuah data yang menurut mereka akan menampilkan suara pasar yang sesungguhnya.

Bagi pemasar sekaligus pemimpin radikal, data sekunder hanya akan menciptakan bias. Mereka akan segera meninggalkan kantor dan keluar menuju pihak yang ingin mereka dengar secara langsung yaitu : pelanggan!

Pemasar radikal sangat suka mendengar gunjingan dari para pelanggan. Telinga mereka berdiri tegak sembari mendengarkan dengan penuh perhatian tentang ketidaksukaan pelanggan terhadap produk yang mereka miliki. Dengan hati-hati pula, pemasar radikal akan menerima suara-suara pelanggan mengenai kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh para pesaing. Suara yang jernih tanpa bias langsung dari pelanggan sepertinya menjadi data tervalid yang tak boleh dilewatkan. Jim Koch, pendiri sekaligus CEO Boston Beer Company, adalah salah satu pemasar dan pemimpin radikal yang melakukan hal itu.

Industri Bir Amerika Serikat memang begitu menarik untuk disimak. Bukan saja karena nilai pasarnya yang besar, pertarungan antar merek bir pun begitu sengit. Para pemain besar seperti Budweiser, Anheuser-Busch, dan Miller adalah “beruang” dalam rimba belantara pasar Bir Amerika Serikat.

Ditengah persaingan sengit industri bir pabrikan, industri bir peraman rumahan atau yang dikenal dengan craft beer, bangkit dan menarik perhatian para “beruang”. Craft beer merupakan bir yang diperoduksi secara terbatas di pabrik-pabrik kecil. Kalau boleh dikatakan miriplah dengan industri makanan dan minuman kecil di Indonesia. Mereka tidak memiliki pabrik yang besar serta mesin yang begitu canggih seperti merek-merek bir besar lainnya. Namun meskipun diproduksi secara terbatas rasa dari bir craft tersebut tidaklah kalah dengan bir besutan pabrik. Bahkan, oleh sebagian penggemarnya, bir craft memiliki rasa yang jauh lebih enak dan unik.

Boston Beer Company yang memiliki merek Samuel Adams merupakan salah satu dari puluhan produsen bir craft. Sejarahnya dimulai saat Jim Koch mendirikan perusahaan di tahun 1984. Saat itu Boston Beer menjadi perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang pesat. Mungkin bukan dalam hal kuantitas, namun kualitas produk.

Di pasar bir craft, Boston Beer menjadi yang terdepan. Setiap tahunnya Boston berhasil memeram lebih banyak bir, jumlahnya setara dengan lima pemeram bir craft pesaing terdekatnya. Kondisi ini tentu saja membuat para pesaing Boston Beer menjadi terperangah dan iri.
Jim Koch yang konsisten menjalankan strategi pemasaran radikalnya, tak hanya membuat pesaingnya di industri bir craft ketar-ketir. Para bir pabrikan seperti Anheuser-Busch seperti kebakaran jenggot. Pasalnya, pelan tapi pasti penjualan bir merek Samuel Adams sedikit mengganggu eksistensi merek bir pabrikan.

Apa yang dilakukan oleh Jim Koch, hingga mampu membangunkan “beruang” tidur?

Jim Koch melakukan apa yang seharus nya dilakukan oleh pemasar radikal. Ia mempekerjakan para misionaris yang bersemangat tinggi untuk menjual birnya, secara konstan meninjau terus bauran pemasarannya, memusatkan perhatian pada penjualan tatap muka, dan masuk ke dalam berbagai komunitas penikmat bir.
Lantas dari mana ia memperoleh data dari pelanggannya?
Ini yang menarik!

how-i-built-my-business-sam-adams-cover (2)Saat Koch memulai usahanya, ia menjual sendiri produk bir craftnya. Saat itu ia memproduksi birnya yang pertama tanpa diberi label. Ia masukkan beberapa bir ke dalam tas kopornya dan berjalan menuju sebuah bar di daerah rumahnya.

Sang manajer bar pertamakali menggelengkan kepala saat Koch menawarkan birnya. Tetapi pria itu tidak mau menyerah, dengan keterampilannya ia berhasil mendesak manajer bar untuk mencicipi bir buatannya. Sang manajerpun akhirnya mengikuti kemauan Koch. Setelah mengendus dan meneguk bir beberapa kali, manajer bar tadi memutuskan untuk membeli bir buatan Koch sebanyak 25 kotak bir. Koch sukses melakukan penjualannya yang pertama.

Apa yang dilakukan Koch, pergi ke bar guna bertatap muka dengan pelanggannya tak pernah dihentikannya hingga Boston Beer menjadi besar. Ia dengan penuh konsisten menjalankan cara itu: bertemu dan selalu dekat dengan pelanggan. Darisanalah Jim Koch menemukan apa yang disukai dan tidak disukai oleh pelanggannya.

Kebiasaan “blusukan” Koch diturunkan kepada para misionarisnya. Mereka selalu menjaga kedekatan dengan para pelanggan. Rutin mengunjungi dan berbincang akrab menjadi kebiasaan yang harus dimiliki oleh setiap pemasar Boston Beer. Tak jarang pemasar Boston melakukan pelatihan gratis bagi para karyawan bar untuk memberikan pemahaman tehadap produk mereka.

Staf pemasaran menjadi pengumpul data yang bisa diandalkan. Mereka langsung memperoleh data dari sumbernya, kemudian melaporkan hal itu kepada para atasannya. Data-data valid itu kemudian digodok untuk mengambil sebuah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.

Blusukan ala Jokowi

Jim koch tinggal di Amerika Serikat, seandainya dia menetap di tanah Jawa pasti kita akan memberikannya predikat orang yang senang “blusukan”. Bukan apa-apa, kata “blusukan” itu sekarang sedang menjadi kata yang populer untuk diucapkan dan ditemukan dalam berbagai macam tulisan.

Sebenarnya, blusukan itu merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa jawa yaitu “blusuk”. Menurut kamus Bahasa Jawa yang disusun oleh Widodo, dkk, “blusuk” memiliki arti “masuk kemana-mana”. Dengan tambahan akhiran –an, maka blusukan menunjuk pada aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk masuk ke tempat yang asing guna memperoleh sesuatu. Lebih jauh, “memperoleh sesuatu” bisa mengandung makna mengenal keadaan dan kondisi suatu tempat secara alami tanpa ada rekayasa.

Jadi kalau ada pejabat atau siapapun yang “blusukan” namun disambut meriah seolah sudah dipersiapkan sebelumnya, aktivitas itu tidak layak disebut “blusukan”. Karena makna “blusukan” yang asli adalah tanpa rekayasa.

Jim Koch dan para misionarisnya melakukan “blusukan” ke tempat-tempat dimana mereka bisa bertemu secara langsung dengan pelanggan. Dari “blusukan” itu tim Boston Beer menemukan “sesuatu” yang bisa diolah untuk mengambil strategi atau kebijakan guna memperbaiki pelayanan mereka kepada pelanggan.

Jokowi juga terkenal dengan aksi “blusukan”-nya. Setiap hari yang kita tahu dari media, suami dari Iriana itu tak pernah berlama-lama berada di kantornya. Pak Guberur pasti berada di lapangan dan “blusukan” kemana-mana.

blusukanApa yang dilakukan oleh Jokowi mirip dengan yang dilakukan oleh para pemasar dan pemimpin radikal. Turun langsung ke sumber data yaitu pelanggan. Tak hanya sekedar bertemu, namun pemasar radikal akan berbincang dengan penuh semangat untuk memperoleh informasi mengenai apa yang sedang terjadi. Juga, memberikan informasi balik mengenai apa yang akan mereka lakukan untuk kepentingan pelanggan.
Kasus pemindahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Pasar Tanah Abang merupakan salah satu contoh hasil dari “blusukan” Sang Gubernur.

Kita sudah paham bahwa Pasar Tanah Abang merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar. Tidak hanya untuk Indonesia, namun juga Asia Tenggara. Anda bisa menjumpai para saudagar yang berasal dari berbagai negara melakukan transaksi dagang di pasar ini.
Layaknya pasar yang besar, Pasar Tanah Abang terbagi atas berbagai zona. Salah satu zona yang menjadi pusat perhatian adalah Blok G. Mengapa jadi pusat perhatian? Karena di blok G-lah biang kemacetan Pasar Tanah Abang. Adalah para PKL yang berjualan di pinggir jalan, mereka yang jumlahnya hampir menyentuh angka 700 itu membuka lapak-lapak dagangan hingga menutupi badan jalan. Macet..macet…dan macet adalah gambaran sehari-hari di Blok G itu.

Jokowi mau membereskan kesemrawutan Blok G. Maka ia melakukan “blusukan” dan memperoleh beberapa informasi:

Pertama, PKL tidak mau pindah karena bila masuk ke dalam pasar mereka takut omset penjualan mereka akan turun karena sepi pembeli.

Kedua, para pedagang itu sebagian pernah menetap di dalam pasar namun kemudian berhamburan keluar berdagang di pinggir jalan. Selain alasan sepi, saat itu kios yang mereka tempati diambil alih oleh pihak swasta.

Ketiga, ada sekelompok orang atau ormas yang terganggu kepentingan ekonomi dan sosialnya bila para PKL masuk ke dalam pasar. Maklum, kelompok atau individu itu adalah mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak yang berhak untuk mengatur dan melindungi keberadaan PKL. Tentu saja perlindungan itu harus dibayar dengan imbalan uang yang ditarik setiap hari. Bila para PKL masuk ke dalam pasar artinya uang setoran akan lenyap.

Jokowi pasti mengetahui hal ini. Ia bergerak cepat meski berisiko tinggi. Sebagai pemimpin radikal ia menggunakan cara-cara yang sebenarnya memang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin tanpa pamrih atau kepentingan apapun.

Pertama, Jokowi memperbaiki kios Blok G. Ia memerintahkan jajarannya untuk mengebut renovasi pasar siang dan malam. Perintah ini tak hanya sekedar perintah, namun seperti kebiasaan Jokowi, ia selalu mengawasi secara langsung apa yang sedang dikerjakan.

Kedua, Jokowi mengadakan pertemuan dengan para perwakilan PKL memberikan informasi mengenai langkah-langkah apa yang akan ia lakukan dan mendengarkan keluhan-keluhan juga keinginan para pedagang.

Ketiga, Jokowi juga mengadakan pembicaraan dengan individu-individu yang dianggap sebagai sesepuh pasar Tanah Abang.

Keempat, Jokowi mengumpulkan data para PKL yang berdagang di pinggir jalan. Mereka memperoleh prioritas untuk menempati kios-kios Blok G. Supaya ada keadilan, penentuan lokasi kios dilakukan dengan cara mengundi.

Kelima, ketakutan pedagang bahwa kios mereka sepi pembeli, dijawab Jokowi dengan mengadakan berbagai strategi pemasaran. Ia memerintahkan untuk membuat berbagai acara pertunjukkan di Blok G dengan tujuan akan menarik minat masyarakat mengunjungi Blok G. Selain itu Jokowi juga sedang memperbaiki akses penyeberangan menuju Blok G, agar mudah dijangkau oleh pembeli. Berbagai fasilitas pendukung seperti mesin ATM dari perbankan juga sedang dipersiapkan. Termasuk mmembangun food curt yang diberikan fasilitas jaringan internet.

Keenam, Para pedagang dibebaskan dari restribusi selama 6 bulan pertama. Setelah 6 bulan barulah mereka membayar restribusi harian.
Biasanya aksi relokasi PKL selalu diwarnai dengan saling kejar dan pukul antara Satpol PP dan PKL. Namun kali ini relokasi PKL bisa dikatakan berlangsung dengan lancar dan tertib. Tanpa ada perlawanan, tanpa ada aksi kekerasaan yang sering kita lihat di televisi, para pedagang mau menempati kios-kios yang sudah disediakan. Pemilihan hari pembongkaran lapak juga sangat mendukung. Sebelum para PKL kembali ke Jakarta sehabis mudik lebaran, lapak-lapak mereka sudah dibongkar. Itu juga menurunkan risiko terjadinya bentrok antar PKL dan petugas.

Wajah Blok G kini sudah berubah. Disana kita tak lagi menjumpai jalan yang macet dan saluran air yang mampet. Yang ada saat ini adalah jalan yang lancar juga trotoar untuk pejalan kaki yang lapang.

Blusukan Tanpa Polesan

Tidak bisa disangkal, sebagai seorang Gubernur yang berangkat dari Partai Politik, kesan politisasi blusukan sebagai cara untuk mengangkat citra diri selalu diarahkan pada Jokowi. Apalagi saat menjelang Pemilu dimana para politikus berlomba-lomba menampilkan citra diri yang positif. Tujuannya apalagi kalau bukan mendongkrak elektabilitas guna meraih kemenangan.

Jauh dari gemuruh pencitraan, pemasaran radikal tidak bisa dibuat-buat atau direkayasa. Gaya pemasaran yang dianut oleh para pemimpin radikal itu sendiri merupakan anti-tesa dari pemasaran tradisional dimana informasi yang diperoleh dari pasar bisa dibiaskan. Saat seorang pemasar radikal menggunakan data yang sudah direkayasa (dengan berbagai alasan) maka ia tidak mampu membuat kebijakan yang tepat.

Saya sudah sedikit menyinggung mengenai gaya “blusukan” yang sudah direkayasa. Dari media kita bisa melihat bahwa pemimpin yang dulu jarang “blusukan” tiba-tiba saja rajin mengunjungi pasar dan kampung-kampung. Berjalan tegak dikawal sejumlah kolega, juga dipayungi karena kepanasan. Tampak dikanan-kiri masyarakat berdiri berjajar menyambut sang pemimpin dengan menggunakan atribut partai dimana sang pemimpin itu menjadi ketuanya. Seolah-olah dekat dengan rakyat. Tetapi apakah benar-benar mampu mengetahui keadaan dan kondisi yang sebenarnya? Bisa jadi tidak!

Maksud saya menulis blusukan tanpa polesan berarti pemimpin itu mau
bergerak memperoleh informasi yang riil. Nyata apa adanya, tanpa dibuat-buat, tanpa persiapan. Dan para pemimpin radikal melakukan hal itu sebagai pintu gerbang untuk membuat sebuah kebijakan yang bisa menjawab kondisi pelanggan atau masyarakat tersebut.

Saya pernah merasakan akibat yang sangat fatal ketika saya tidak memperoleh informasi yang benar dari pelanggan. Saat itu saya memperoleh tugas dari perusahaan untuk menjual peralatan pabrik buatan Jepang. Saya memutuskan untuk mengunjungi pabrik yang sudah saya incar sebelumnya.

Setelah tiba di pabrik, saya menemui seorang kolega di bagian pembelian. Darinya saya memperoleh informasi bahwa mereka sedang merencanakan sebuah pembelian alat berupa Valve atau katup bertekanan tinggi. Alat itu sangat diperlukan untuk mengganti alat serupa yang sudah rusak. Mengingat Valve yang lama sudah tak beredar lagi, pabrik memperbolehkan mengganti alat itu dengan merek yang lain.

Saat itu saya tidak mengunjungi unit yang menjadi user atau pengguna valve. Saya hanya mengandalkan informasi yang saya dapatkan dari kolega di bagian pembelian. Alhasil, saat kami melakukan pengiriman barang karena penawaran kami diterima, pabrik mengembalikan barang karena tidak sesuai dengan spesifikasi. Bagian pembelian tidak memberikan informasi yang cukup jelas mengenai kekuatan tekanan.
Inilah sebuah kesalahan yang harus ditanggung bila informasi yang diterima dari pelanggan tidak utuh. Andai kaki saya bergerak menuju unit pengguna, saya yakin kami tidak salah mengambil keputusan.

Para pemasar radikal memang dilahirkan untuk berhati-hati dengan riset-riset pemasaran. Mereka menggunakan riset dengan mengunjungi pelanggan secara langsung untuk mengetahui pendapat para pelanggan. Saat pemasar ingin menguji idenya, ia akan mengunjungi pelanggan sembari bertanya tentang ide tersebut.

Hal yang sama sepertinya dilakukan oleh Jokowi juga bukan? Saat ingin menguji idenya tentang kampung deret tanah tinggi, ia pergi ke sana. Bertemu masyarakat dengan membawa desain kampung yang akan dibangun. Dengan sabar ia menjelaskan ide-idenya tentang penataan kampung, dan menunggu masyarakat memberikan masukan mengenai ide tersebut.

Anda juga bisa menyaksikan aksi Jokowi saat mengunjungi pasar-pasar yang akan direnovasi. Ia akan “blusukan” ke pasar dengan mempresentasikan desain pasar yang baru. Berbicara langsung dihadapan para pedagang dan meminta masukan mereka mengenai rencana renovasi. Jokowi dalam hal ini menggunakan cara-cara yang dipakai oleh para pemasar radikal.

“Blusukan” Tanpa Aksi: Nothing!

Berkali-kali Jokowi mengatakan arti aktivitas “blusukan” bagi dirinya. Ditengah cemoohan beberapa pihak yang meragukan “blusukan” dapat memberikan manfaat, jokowi bersikukuh dengan aksinya itu. Gaya yang diterapkan saat menjadi walikota solo itu dibawa juga saat menjadi CEO Jakarta.

Bagi para pemasar dan pemimpin radikal, mengunjungi para pelanggan hanyalah sebuah cara untuk mendengarkan dan berbagi ide. Hanya itu saja! Hanya sebuah cara agar para pemasara radikal itu memahami persoalan sebenarnya yang sedang terjadi.

Nah, kalau pemasar radikal itu kembali ke kantor dan mendiamkan saja berbagai informasi yang diperolehnya, “blusukan” hanya menjadi semacam acara seremonial belaka. Tak lebih dan tak kurang.
“Blusukan” akan menjadi bermakna bagi pemasaran bila diikuti dengan sebuah aksi. Apa yang akan dilakukan dengan informasi dan ide yang diperoleh dari pelanggan? Strategi apa yang akan dilakukan? Ide apa yang layak untuk diterapkan? Bauran pemasaran apa yang harus ditinjau kembali?

Kata-kata para pengkritik aksi Jokowi dapat menjadi benar bila Jokowi berhenti menggunakan ide-ide atau informasi yang diperolehnya melalui “blusukan”. Jika ia melakukan hal seperti itu, dugaan “blusukan” hanya sebagai model pencitraan bisa disematkan padanya. Tetapi sebaliknya, aksi “blusukan” akan memiliki makna bila kemudian Jokowi “do something” dengan informasi dan ide yang diperolehnya di lapangan. Sekaligus, menggugurkan pernyataan-pernyataan para pengkritik bahwa “blusukan” hanya membuang-buang waktu semata.
Kita memang tidak bisa menempatkan “blusukan” sebagai alat ukur keberhasilan bahwa seorang pemimpin itu radikal atau tidak, dekat dengan pelanggan atau tidak. Semakin banyak melakukan “blusukan”, bertemu dengan pelanggan atau masyarakat otomatis pemasar atau pemimpin radikal itu sukses. Tidak seperti itu!

Ukuran kesuksesan bisa kita lihat dari sejauh mana aksi atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemasar atau pemimpin radikal dari informasi atau ide yang diperolehnya dari “blusukan”. Dengan kata lain, tanpa aksi yang nyata, “blusukan” tak ada artinya!

Iklan

digibookAkhir-akhir ini kepala saya sedang pusing. Bisnis penerbitan yang saya kelola mengalami penurunan penjualan yang serius. Pertanyaan saya, apakah saya harus berhenti?

Dibisnis penerbitan konvensional, seorang penerbit memang harus cerdas dan ulet menghadapi perkembangan bisnis. Berbagai tantangan selalu menghadang didepan, mulai dari tingginya biaya cetak hingga buku tak laku dijual.

Buku saya memang tak bagus dipenjualan. Retur-nya tinggi sekali, sampai-sampai saya harus menjual buku itu dalam bentuk kiloan. Sungguh mengenaskan bukan? hehehehe

Cuma, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyerah dengan kondisi ini. Saya harus mencari cara baru supaya dapat tetap memproduksi buku dengan biaya yang sangat rendah.

Eh, ternyata ikhtiar saya didengar Tuhan. Ia mengirimkan teman untuk berbicara kepada saya tentang cara memproduksi buku nyaris tanpa biaya dan menjualnya hingga ke seluruh penjuru dunia. Jadi kalau memang buku saya bagus, orang-orang di luar negaraku ini bisa membacanya.

Singkat cerita, saya kini menulis dan memproduksi buku dalam bentuk digital dan menjualnya di toko-toko buku digital seperti ini, ini dan juga ini. Selain scanie, buku-buku digital itu juga dijual di sini .

Saya harus berterimakasih kepada para partner bisnis saya: Itunes, android, dan toko-toko buku Digital. Berkat mereka saya masih bisa bertarung dibisnis penerbitan dangan modal sangat kecil dan penjualan yang luar biasa.

Anda mau coba?

Saya yakin Anda juga bisa, Salam sempurna!


Seorang teman bertanya kepada saya,”Darimana kamu belajar bisnis?”. Pertanyaan itu saya jawab dengan tegas,”Saya belajar banyak dari banyak orang, termasuk diantaranya sahabat-sahabat saya yang keturunan cina”.Ya, saya berhutang banyak dengan mereka, sahabat-sahabat saya yang kebetulan keturunan cina.

Di tahun 1993 hingga 1996, saya “nyantrik” disebuah sekolah di Kota Jogjakarta. Sekolah itu bernama Kolese John De Britto. Selama 3 tahun saya memahami benar bahwa perbedaan ras atau suku bukanlah sesuatu yang harus terus menerus dipersoalkan. Saya, yang kebetulan orang jawa, bisa bergaul akrab dengan teman-teman yang kebetulan keturunan cina. Segala suka dan duka kami jalani bersama, tanpa tentu saja mengabaikan perbedaan yang kami miliki secara pribadi.

Adalah teman-teman saya yang keturunan cina itu yang mengajari saya berbisnis kala di De britto. Mereka memberitahu bagaimana berbisnis sticker, atau menjual kaos dan jaket yang bisa dijual kepada teman-teman sekolah. Mereka, memberikan contoh bagaimana memulai sebuah bisnis. Inilah, kelebihan yang mereka miliki, yang dapat saya ambil sebagai sebuah skill yang sangat berguna bagi saya dikelak kemudian hari.

Pengalaman semasa di De Britto terus berlanjut. Ketika saya bekerja sebagai seorang banker, saya bertemu dan berkenalan dengan banyak pengusaha keturunan cina. Mereka, tak segan memberikan berbagai trik dan tips bisnis yang mereka miliki. Bahkan, beberapa kenalan memberikan motivasi luar biasa supaya saya berani mengambil keputusan menjadi seorang pengusaha.

Apa yang saya alami adalah sebuah titik kecil dari perpotongan garis perbedaan yang kita miliki, khususnya mengenai perbedaan suku, ras ataupun agama. Seandainya saja, setiap orang di bangsa ini bisa bekerja sama dengan erat, mengukir dibenaknya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah anugerah untuk menggapai sebuah kesuksesan, maka kemandirian ekonomi yang dicita-citakan para founding fathers bangsa ini dapat segera terwujud.

Semoga!

Mau tau ebook-ebook saya? klik link bawah ini

Berani Utang Untuk Investasi Pasti Untung!

Sukses Ubah Kartu Kredit Jadi Modal usaha!


Hari ini tanggal 28 Juli bakal ada demo besar-besaran di desa dimana saya hidup. Demonstrasi ini dipicu oleh pembangunan sebuah stasiun pengisian gas LPG dalam tabung, yang telah lama ditentang masyarakat sekitar.

Alasan masyarakat yang menentang sebenarnya sangat masuk akal. Masalah ledakan tabung gas akhir-akhir ini sangat meresahkan, lha bagaimana kalau statsiun itu bermasalah dan kemudian meledak. Apalagi lokasi stasiun pengisian itu berada di tengah pemukiman penduduk. Sangat dekat, sehingga wajar bila masyarakat cemas.

Usaha yang digagas oleh seorang pengusaha dari desa saya ini sebenarnya tidak ditentang masyarakat bila lokasinya jauh dari pemukiman penduduk. Namun sepertinya suara rakyat yang besar ini tidak diindahkan oleh sang pengusaha, hingga aksi massa keliatannya tak dapat dihindarkan.

Aksi-aksi ini kerap kita jumpai.Pertentangan antara pemilik usaha dan masyarakat dimana usaha itu berdiri kadang menjadi bumbu dalam perjalanan sebuah bisnis. Bahkan sampai terjadi kekerasan dalam penyelesaiannya.

Bagi pengusaha tentu tidak bisa main “slonong” begitu saja dalam membangun sebuah bisnis. Harus ada banyak hal yang diperhitungkan sebelum membangun sebuah bisnis. Salah satu hal penting yang hendaknya menjadi perhatian  bagi setiap pengusaha dalam membangun sebuah bisnis adalah masalah sosial benefit. Sosial benefit mempertanyakan apakah bisnis yang hendak dibangun memberikan keuntungan bagi kesejahteraan masyarakat dimana bisnis itu berada. Keuntungan tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Materi maupun non materi ( termasuk rasa aman ). Jika sebuah bisnis yang dibangun lebih banyak memberikan keuntungan sosial dibandingkan dampak negatif yang ditimbulkannya, maka layaklah kiranya sebuah bisnis itu dibangun. JIka sebaliknya, ada baiknya mencari jalan keluar yang lebih bijaksana.

Sejatinya, pebisnis adalah pelayan masyarakat. Maka sewajarnya jika bisnis yang dibangun mejadi  alat pelayanan yang mensejahterkan. Bukan sebaliknya. Selamat berbisnis!


Satu-satunya cara agar kita bisa memiliki pengetahuan mengenai bisnis ini hanyah BELAJAR ! Sengaja saya tulis besar kata Belajar agar memperoleh perhatian besar dari anda.  Lantas , bagaimana caranya ?

1. Carilah mentor bisnis !

Anda pernah nonton film kungfu mandarin ? Biasanya sang jagoan tidak bisa apa-apa di awal film. Jika bertemu dengan musuh , sudah dapat dipastikan ia akan kalah.Dihajar habis-habisan.

Ditengah kesulitan , akan muncul satu tokoh guru yang bersedia mengajarkannya jurus-jurus silat. Sang jagoan akan dilatih untuk memperkuat fisiknya, memahami jurus andalan sang guru, kemudian mempraktekannya. Setelah dirasa cukup mumpuni, sang jagoan pamit kepada sang guru dan “turun gunung” untuk menjalankan misinya.

Sama seperti jagoan di film silat mandarin, kita juga butuh guru alias mentor. Mentor tidak harus orang yang berkecimpung dibisnis yang anda ingin geluti, ia bisa saja memiliki bisnis apapun.  Namun yang pasti  anda bisa meminta saran dan pendapatnya.

Mentor yang baik akan membimbing anda untuk belajar. Ia tidak segan-segan menurunkan ilmunya pada anda. Akhirnya , semua tergantung kepada kemampuan dan kemauan anda untuk belajar.

Saya punya banyak mentor yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya , mendidik saya menjadi seorang pengusaha. Mereka masing-masing memiliki kelebihan. Kelebihan merekalah yang saya serap , kemudian saya praktekkan.

Ada mentor saya yang hebat dalam mengatur keuangan. Saya belajar darinya bagaimana cara mengatur keuangan bisnis. Mulai dari mengatur cashflow, persediaan barang , hingga tetek bengek lainnya. Ada juga yang mahir dalam membangun hubungan dengan partner bisnis. Kemampuannya dalam membangun kepercayaan, layak diacungi jempol. Banyak tips yang bisa saya kembangkan untuk membangun bisnis.

Saran saya ,Temukan mentor anda sebelum anda terjun dalam bisnis apapun!

2. Belajar dari “ahlinya”.

Ada sahabat atau saudara anda yang berprofesi dibisnis yang ingin anda geluti? Misalnya anda ingin membangun bisnis bahan bangunan. Apakah anda memiliki sahabat atau saudara  yang paham dengan bisnis bahan bangunan ? Bila anda memilikinya, sebuah keberuntungan sudah anda miliki.

Saya belajar banyak dari orang-orang yang paham dengan bisnis bahan bangunan. Salah satunya adalah teman-teman salesman yang sering datang mengunjungi toko.

Biasanya bila hubungan yang kita bangun dengan mereka baik, banyak informasi yang bisa kita peroleh dari mereka. Mulai dari kualitas barang, informasi pasar, hingga produk apa yang akan segera muncul di pasaran. Tak jarang, harga toko sebelahpun bisa kita ketahui melalui teman sales ini.

Dalam suatu kesempatan seoarang teman sales mengatakan kepada saya bahwa perusahaannya akan menjual sebuah produk cat dengan merek yang masih baru. Ia membawa sample produk dan memberikan saya informasi mengenai produk baru tersebut. Kualitas yang ditawarkan ternyata sama dengan produk sejenis yang telah menjadi market leader. Hanya saja, karena merek yang masih baru, produk ini belum begitu dikenal konsumen. Meskipun harga yang ditawarkan berada di bawah produk market leader alias lebih murah.

Setelah saya yakin dengan kualitas produk cat tersebut. Saya mengajukan penawaran kepada rekan sales tersebut. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan menjual produk tersebut, dan melakukan pembelian lumayan banyak dengan syarat : dalam radius 10 km tidak ada yang boleh menjual produk tersebut selain saya. Kedua, saya meminta kepadanya untuk menyediakan spanduk atau brosur untuk membantu pemasaran. Setelah ia berdiskusi dengan pimpinannya, akhirnya penawaran saya disetujui.

Belajar dari orang yang paham atau memiliki skill dibidangnya, merupakan cara belajar yang cepat. Bila anda pintar membangun hubungan, akan ada banyak informasi, yang mungkin pesaing anda tidak mengetahuinya.

3. Belajar dari pesaing !

Mungkin anda berpendapat bahwa saya sudah gila menulis ini. Belajar dari pesaing. Bagaimana mungkin , kita bisa belajar dari “musuh” ?

Saya tidak gila, bahkan seratus persen sadar ketika menulis ini. Sejatinya, tidak ada musuh dalam berbisnis. Hanya pandangan kita bahwa toko sebelah atau perusahaan tetangga yang menjual barang sejenis adalah musuh kita. Tidak, saya tidak sepakat dengan pandangan itu.

Jika kita masih memiliki pola pikir “musuh” terhadap pesaing, maka kita tidak akan pernah memperoleh apapun dari sebuah persaingan. Padahal persaingan adalah salah satu cara yang dibuat oleh alam semesta untuk membuat anda semakin lebih cerdas, cermat dan cekatan dalam menghadapi kehidupan. Termasuk kehidupan bisnis anda.

Bila toko atau usaha pesaing  kita jauh lebih ramai dan maju, anda harus belajar darinya. Salah satu cara yag saya gunakan adalah menanyai pelanggan yang pernah belanja di pesaing tersebut. Apa kelebihannya ? Apa kekurangannya ? Apakah usaha pesaing memberikan harga yang lebih murah ? Lebih cepat dalam menghantarkan pesanan ? atau lebih ramah dalam melayani ? Catat dan pelajari informasi tersebut. Tutup kelemahan lawan dengan kelebihan yang anda miliki dalam bisnis anda.

Saya sering menjumpai, kebanyakan pelanggan memberikan informasi bahwa toko sebelah lebih murah dibandingkan harga produk sejenis yang dijual di toko. Ada dua kemungkinan akan informasi tersebut. Pertama, informasi tersebut benar bahwa harga pesaing lebih murah. Atau yang kedua, pelanggan ingin memperoleh harga yang lebih murah lagi hingga ia melakukan bluffing. Singkatnya, kita harus hati-hati menerima informasi mengenai pesaing.

Selamat Belajar !

Salam sempurna !


timbanganCap ekonom neoliberalis saat ini sedang ramai-ramainya ditunjukkan pada Pak Boediono. Calon wapres pilihan Pak SBY ini , belakangan sibuk melakukan tangkisan tuduhan-tuduhan dari berbagai pihak terhadap dirinya.

APa toh neoliberalisme itu ? Lantas apa pula ekonomi kerakyatan yang menjadi lawan dari paham neoliberalisme. Layakkan mereka disandangkan pada Indonesia ?

Neoliberalisme jika ditilik dari artinya ( wikipedia ) merupakan paham ekonomi yang menyerahkan seluruh aktivitasnya pada pasar bebas. Artinya tidak ada seorangpun termasuk pemerintah yang boleh campur tangan terhadap pasar. Pasar dibiarkan bergerak semaunya tanpa intervensi apapun.

Kritik terhadap neoliberalisme mengacu pada : manusia ataupun negara di dunia ini tidak memiliki kemampuan yang sama. Akhirnya : yang kuat semakin kuat, yang lemah semakin lemah.

Ekonomi kerakyatan ditandingkan dengan neloliberlisme. Ekonomi kerakyatan merupakan paham dimana perekonomian bersandar pada pelaku-pelaku usaha kecil menengah ( UKM ). Artinya para pelaku UKM ini yang memberikan kontribusi pada perekonomian kita.

Harus diakui ketika ekonomi kita mengalami krisis, UKM adalah bumper perkonomian kita. Mereka kuat ditengah limbungnya kondisi ekonomi yang tengah sekarat.

Saya tidak setuju neoliberalisme diterapkan dinegeri ini. Namun kita juga tidak menutup mata bahwa dunia telah berubah. Globalisasi telah melanda semua penjuru dunia. Nah inilah yang harus kita gunakan sebaik mungkin. Gimana caranya menggunakan uang-uang yang berkeliaran untuk membangun UKM. Bagaimana caranya pemerintah menggunakan powernya untuk menciptakan kondisi bisnis yang kondusif bagi UKM. Gimana caranya lagi, uang-uang yang ngendon di SBI bisa digunakan di sektor riil.

Tapi saya memilih untuk mengoreksi diri. Bagaimana caranya supaya kita, para pelaku UKM bisa bahu membahu membangun UKM yang kuat. Hingga mampu menjadi pondasi bagi bangsa ini. Saya kira masalah UKM tidak hanya berkutat pada tingginya bunga pinjaman atau sulitnya memperoleh kredit bank, namun lebih jauh dari itu, mampukah para UKM membangun kredibilitas dirinya menggunakan uang orang lain. Menjadi pribadi-pribadi yang dapat dipercaya, jujur dan ulet harus kita mulai saat ini.

So, para UKM’ers..bersiaplah menjadi pemenang di era wave ini. Kita harus menggunakan kesempatan apapun yang kita miliki untuk membangun bisnis kita. Buka dan buka lagi usaha yang bisa kita lakukan, agar supaya saudara-saudara yang masih menganggur dapat bekerja.

Kepalkan tangan ! Rapatkan barisan ! Mari berusaha !

Salam sempurna !


rossi-juaraTidak bisa disangkal lagi bahwa valentino rossi adalah seorang legenda di dunia balap motor GP. Dalam setiap penampilannya, ia tidak hanya sekedar tampil sebagai pembalap. Namun juga sebagai seorang entertainer sejati. Aksinya di jalanan beraspal mampu menjadi magnet bagi jutaan orang.

Kehebatan The doctor ini bisa kita ambil sebagai pelajaran penting dalam membangun bisnis. Apa pelajaran yang bisa kita petik ?

1. Apapun kondisinya kita bisa juara.

Dalam suatu kesempatan, rossi menempati posisi start di urutan 11. Namun dengan kemampuannya , ia mampu finish di urutan ke 2 dan naik podium.

Kita tidak harus memiliki segalanya untuk menjadi pengusaha sukses. Berbekal kemampuan atau skill yang diberikan Tuhan, ditambah dengan ketekunan dan kesabaran serta mau belajar, kesuksesan akan kita raih.

2. Sabar dan Tekun

Yah, apapun strategi bisnis yang dilakukan, bila tanpa didasari semangat sabar dan tekun semua tak ada gunanya. Rossi membuktikan hal itu di sirkuit.

Dengan sabar dan tekun ia melahap lap demi lap. Kecepatan semakin digeber. Tak jarang Rossi harus berjibaku dengan lawan-lawannya ditikungan maupun di track lurus. Bila keadaan tak memungkinkan untuk mendahului , rossi tak mau tergesa-gesa. Inilah yang menyebabkan dirinya jarang sekali terpeleset dan terpental dari kuda besi tunggangannya. Kesabaran dan ketekunan , kunci kemenangan Rossi.

3. Cerdik melihat Peluang

duelRossi menurut saya adalah tipe pembalap yang “cerdik”. Bila lawan sedikit melakukan kesalahan, ia pasti akan akan menyalipnya.

Kemampuan melihat peluang-peluang hendaknya dimiliki oleh seorang pengusaha. Peluang bisnis sejatinya bertebaran di luar sana. Namun peluang itu tidak akan menjadi sebuah bisnis jika kita tidak mencarinya, merencanakannya dan mengeksekusinya.

4. Didukung Tim yang hebat

Kehebatan Rossi di sikuit balap tidak bisa dilepaskan dari tim pendukungnya. Mulai dari manager , mekanik hingga pelatihnya. Semua bekerja sama, mengeluarkan segala kemampuan dengan satu tujuan : menjadi tim jura !

Kita harus membangun tim bisnis yang bila ingin sukses. Mulai dari karyawan, para supplier, para kreditur dan stake holder yang lainnya. Bila di analogikan sebagai sebuah orkestra , anda adalah “dirigen” bagi usaha anda. Bangunlah orkestra anda agar dapat memainkan musik yang dapat dinikmati.

5. Strategi

Layaknya sebuah permainan, adu kencang di balapan Motto GP membutuhkan strategi. Starategi dapat saja berubah-ubah, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Lihat saja apa yang dilakukan rossi ketika ia berada jauh dibelakang lawan. Ia menggunakan strategi yang berbeda ketika ia menguntit lawan.

Tak jarang dalam menguntit lawan ia menggunakan strategi determinasi. Terus menekan , hingga lawan melakukan kesalahan. Bila lawan belum melakukan kesalahan, Rossi takkan nekat menyalipnya. Dan Rossi akan terus menekan hingga lawan menjadi lengah.

Menggunakan strategi dalam berbisnis itu perlu. Strategi dalam memasarkan, mengatur keuangan, bernegosiasi, menghadapi persaingan, membuka cabang lagi, dan aktivitas bisnis lainnya, betul-betul membutuhkan strategi. Rancang dan terapkan strategi , kemudian evaluasi. Terapkan strategi dengan melihat kondisi dan keadaan. Strategi bisnis itu fleksibel.

6. Gunakan apa yang dimiliki

Banyak orang mengeluh tidak punya modal ketika mau berbisnis. Saya setuju bahwa tidak ada bisnis yang tidak membutuhkan modal. Namun modal tidak semata-mata uang. Banyak modal yang sejatinya kita miliki, tidak berwujud uang. Misalnya :

– jaringan yang luas

-Ruang atau tempat berupa rumah atau kios

-skill atau keahlian yang tidak dimiliki oleh setiap orang

-dll

Rossi kerap kali menggunakan kakinya untuk melambankan laju motornya dan menjaga keseimbangan. Kerapkali juga menggunakan lututnya ketika harus menikung. Valentino Rossi menggunakan apa saja yang ia miliki untuk meningkatkan performance nya.

7. Rossi tau apa yang harus ia capai

podiumRossi fokus pada balapan. Ia tahu bahwa tujuannya hanya satu yaitu juara ! Mau motornya bermasalah maupun tidak, Rossi hanya memiliki tujuan : Juara. Dalam banyak balapan, ketika ia sudah pasti menjadi juara GP, tetap saja motivasi juara itu terjaga. Ia tetap menggeber motornya dan tak mau mengalah. Rossi tau apa yang harus ia tuju. Ia mengerti betul, apa yang harus ia capai.

Valentino Rossi is the Legend !!


senyumMungkin anda mengernyitkan dahi membaca judul di atas. Tapi sejatinya memang begitu, dalam banyak hal saya menemukan bahwa bisnis tidak hanya menunjukkan bagaimana memasarkan produk anda. Namun yang lebih dalam berbicara bagaimana memasarkan kegairahan !

Apapun yang kita lakukan dengan sebuah kegairahan , biasanya akan terus bergerak menuju pertumbuhan. Layaknya seorang pria yang jatuh cinta, ia akan berusaha keras menumbuhkan cinta hingga berkobar-kobar. Bahkan cara-cara yang unik dan tak terpikirkan pun akan ia lakukan. Demi menjaga bibit cintanya dan mungkin juga menumbuhkan cinta pada orang yang dicintainya.Bisnis pun demikian. Kegairahan harus kita miliki untuk menumbuhkan bisnis kita.

Jadi, bagaimana kita bisa menggunakan kegairahan untuk menumbuhkan bisnis  ?

1. Tumbuhkan Kegairahan ada pada  sikap.

Bagaimana anda bersikap mutlak perlu untuk diperhatikan. Ketika anda menjalankan bisnis anda dengan bergairah , maka semua orang akan melihatnya. Pelanggan anda akan melihat anda sebagai orang yang ramah, konsultatif, dan itu semua akan mempengaruhi bisnis anda. Dengan kegairahan, bisa jadi kita menemukan cara-cara yang out of box agar bisnis semakin tunbuh.

Anda pasti tahu BOB SADINO, pengusaha agrobisnis sukses dari Indonesia. Yang saya baca  dari sepak terjangnya adalah ia memiliki kegairahan yang besar terhadap apa yang ia lakukan selama ini, yaitu berbisnis. Tak heran bila saat ini bisnisnya pun berkembang. Tidak lagi menjual produk-produk agro, namun telah merambah ke bidang properti. Kita bisa menemukan sejumlah Bob Sadino lain di luar sana.

2. Tularkan Kegairahan

Kegairahan tidak bisa tumbuh sendiri. Ia harus kita tanam dan terus kita rawat. Jika anda menginginkan karyawan anda begitu bergairah untuk melayani pelanggan, anda harus menanamkannya terlebih dahulu.

Langkah awal sudah pasti, jadilah orang yang paling bergairah dalam perusahaan. Anda adalah pemilik bisnis, dan wajib hukumnya terus bergairah. Ajarkan dengan sikap anda bahwa kegairahan dapat menciptakan sikap-sikap yang positif. Perlu anda ingat bahwa kegairahan itu sungguh MENULAR ! Layaknya virus. Tularkan virus kegairahan pada semua stake holder usaha anda.

3. Pasarkan  Kegairahan

Banyak Bank di Indonesia.Mereka sama-sama menjual produk-produk perbankan yaitu pinjaman dan simpanan. Bahkan feature-feature yang ditawarkan pun hampir sama. Namun apa yang membedakan BCA dan Bank yang lain ?

Selain produk , mereka menjual layanan. Jaringan ATM yang banyak. Berbagai kemudahan dalam bertransaksi , hingga cara para customer servive menyambut pelanggan.

Coba perhatikan para CS BCA. Ketika nomor antrian anda dipanggil, mereka akan berdiri, mengurai senyum dan menanyakan nama anda sambil mmeperkenalkan diri. Sama-sama jualan simpanan dan pinjaman, namun BCA juga memasarkan kegairahan yang ditampilkan dalam pelayanan.

Jadi, tumbuhkn kegairahan anda, rawat,  tularkan kepada semua orang yang terlibat dalam bisnis anda dan siap untuk dipasarkan. Selamat mencoba !


Kita tahu bahwa memperoleh modal usaha sangat sulit di masa-masa krisis likuiditas saat ini. Para pengelola lembaga keuangan memperketat aturan memperoleh pinjaman bagi calon nasabah. Selain karena kehati-hatian , itu juga dilakukan karena uang yang ngendon di bank harus dijaga. Tidak bisa digelontorkan begitu saja kepada nasabah dalam bentuk pinjaman.

Ada baiknya kita mencari modal diluar lembaga keuangan. Sejatinya modal ini bertebaran bila kita cerdas untuk mencarinya.

Salah satu sumber modal usaha yang bisa kita peroleh berasal dari supplier. Mereka adalah pihak yang menjual atau menitip produk mereka kepada anda , untuk dijual kembali kepada pelanggan atau user. Tentu saja, produk yang mereka jual atau titipkan pada anda adalah modal yang mereka percayakan kepada anda. Apalagi bila mereka menjual dengan menggunakan tempo pembayaran. Wuihh, itu modal tanpa bunga bung !

Saya ingin berbagi sedikit tips agar anda bisa menarik para supplier sebagai pemodal :

1. Bangun Kredibilitas

Memang kredibilitas tidak bisa dibangun dalam semalam. Namun semakin cepat anda membangun kredibilitas anda , maka semakin baik posisi anda dimata supplier. So bangun kredibilitas dengan :

a. Membayar utang tepat waktu

b.Jangan mencoba untuk membajak atau membuat produk palsu.

c.Berikan informasi tentang pasar produk mereka.

d.Bangun komunikasi yang baik dengan para salesman atau salesgirl mereka. Bila perlu anda membangun hubungan yang baik dengan pemimpin yang bisa mengambil keputusan. Misalnya,  manajer produk atau manajer area.

2. Negosiasikan Jangka waktu dan harga

Bila kredibilitas anda dimata supplier baik, maka posisi negosiasi anda semakin tinggi. Anda memiliki daya tawar yang kuat untuk bernegosiasi mengenai harga dan waktu pembayaran utang. Semakin lama tempo pembayaran semakin baik untuk cashflow anda. Jika toko atau outlet anda memiliki performance yang cukup baik dalam penjualan, masalah harga bisa dirembug.

3. Ajak mereka untuk bekerja sama

Yup, ajaklah supplier anda untuk bekerja sama. Anda bisa meminta mereka untuk membuat banner misalnya, atau melakukan promosi bersama. Kegiatan-kegiatan pemasaran bisa anda buatkan proposal dan sampaikan kepada mereka.

Misalnya, anda membuka usaha salon di rumah. Maka ajak saja supplier produk rambut untuk melakukan demo bersama. Hal ini terbukti paling efektif dan efisien untuk memperkenalkan brand masing-masing kepada calon pelanggan anda.

Bila kegiatan-kegiatan ini dilakukan secara kontinyu maka ini yang diharapkan :

4. Menggenjot penjualan anda.

Bagi pegusaha , penjualan adalah sumber pendapatan. Secara tidak langsung penjualan anda itu juga sumber pendapatan bagi supplier. Jadi mereka sangat berkepentingan terhadap penjualan anda. Gunakan taktik dan strategi yang tepat untuk menggenjot penjualan kita. Masalah ini kita bahas lain kali ya 🙂

Salah satu toko bangunan yang kami yang berada di Tulungagung, TB.Manunggal Jaya, saat ini dipercaya oleh banyak sahabat-sahabat supplier. Di dalam toko sudah tidak ada lagi barang yang saya beli dengan menggunakan modal saya pribadi.  Semua barang dibeli dengan tempo pinjaman rata-rata 2-3 bulan dengan harga yang kompetitif. Dengan begitu, konsep bisnis saya adalah mengelola modal milik supplier ! Saya hanya menyediakan tempat saja. Semoga bermanfaat!


susanSusan Boyle bukan siapa-siapa sebelum akhirnya tampil di acara British Idol. Ketika tampil di atas panggung banyak orang meremehkannya. Maklum saja, tampilannya ndeso banget. Usianya yang 47 tahun,  tubuhnya yang tambun plus tingkahnya yang lucu , membuat banyak orang sangat sangsi ia bisa mewakili inggris di acara idol-idol-an ini.

Tapi the show must go on. Rasa percaya diri Susan patut diacungi jempol. Suaranya dahsyat….semua terpana ketika ia membawakan sebuah lagu malam itu. Semua penonton berdiri memberikan aplaus. Bahkan sang Simon, si tukang kritik, tak mampu berkata-kata. Susan Boyle, perempuan dari desa, is the next rising star.

Semangat Susan patut ditiru oleh para pebisnis pemula. Percaya diri dan tak gentar akan persaingan.

Apa yang bisa kita ambil dari Susan ?

1. Susan punya suara yang khas. Jadi, jika kita punya bisnis yang khas, lahir dari ide kita sendiri, satu langkah menuju sukses. Kalo ngga punya ide sendiri ? yah, niru aja, tapi berikan sesuatu yang berbeda.

2.Gaung Susan dibantu oleh Media. Nah,ini dia caranya. Cerdas dalam berpromosi. Rekaman penampilan Susan terbantu oleh Youtube. 1,5 juta orang melihat penampilannya di Youtube.

Gunakan media sosial yang saat ini sedang hot-hot nya. Ada blog, facebook, tagged dll. Saya menggunakannya untuk memasarkan buku saya. Hasilnya ? Buku berjudul : BERANI UTANG PASTI UNTUNG best Seller !

3. Berikan informasi kepada pelanggan anda dengan jujur. Yup, cari orang jujur susah kan akhir-akhir ini. Banyak nge-gombal, kagak ada buktinya. So, jujur itu dicari orang. Jelaskan bisnis anda kepada orang lain atau calon pelanggan anda. Apalagi sekarang informasi sudah ada di tangan pelanggan. Bukan lagi ditangan konsumen. Jadi kalo mau nipu, bisnis anda tidak akan bertahan lama.

4. Sabar…

Membangun bisnis harus sabar. Tersenyum saja bila gagal. (Dalam klipnya di Youtube, Susan selalu tersenyum..) Kemudian coba lagi. Banyak belajar dari kesalahan orang lain merupakan sesuatu yang bijak. Ada pepatah : orang pintar belajar dari kesalahannya sendiri, orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Anda mau yang mana ? Terserah saja.

Baiklah…Susan Boyle pantas untuk ditiru !