Investasi atau Spekulasi ?

Posted: Februari 17, 2010 in bisnis, cashflow, hutang, modal

Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi, seorang narasumber mengatakan bahwa banyak pinjaman bank digunakan oleh debitur untuk berinvestasi di saham. Sehingga, ketika lantai bursa saham gonjang-ganjing karena rontoknya harga-harga saham, banyak kreditur yang terlilit utang.

Saya lantas mengkonfirmasi seorang sahabat yang biasa berinvestasi saham di lantai bursa. Menurut pengakuannya, tidak sedikit investor yang menggunakan pinjaman bank untuk melakukan investasi saham. “Yang penting kita tau betul dengan saham yang mau kita beli, dan sanggup untuk membayar utang tidak masalah,” jelasnya kepada saya.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa menggunakan utang untuk berinvestasi di saham atau instrumen lainnya seperti reksadana, margin trading dan lain sebagainya bukanlah tindakan investasi melainkan sebuah tindakan spekulasi. Sebuah tindakan yang berisiko tinggi dan dapat menghilangkan seluruh asset dalam sekejap.

Supaya kita tidak terjebak dalam sebuah pandangan yang kabur mengenai hal ini, maka ada baiknya kita sedkit mengupas mengenai apa itu investasi, spekulasi dan kaitannya dengan penggunaan utang.

Seperti yang telah kita pahami, secara sederhana investasi diartikan sebagai pembelian suatu aset dengan harapan diwaktu depan nilai dari aset yang kita beli dapat meningkat sehingga kita dapat memperoleh keuntungan. Keuntungan merupakan sebuah kompensasi dari risiko dan waktu yang kita tanggung.

Dari definisi di atas jelas bahwa setiap investasi mengandung risiko. Hanya saja tingkat risikolah yang membedakan sebuah investasi dengan investasi lainnya. Risiko berinvestasi di deposito tentu lebih rendah dibandingkan berinvestasi di saham. Karena di Indonesia, setiap deposito dan tabungan yang mengikuti program penjaminan simpanan dijamin oleh pemerintah. Namun, kesempatan anda memperoleh keuntungan dari investasi di deposito misalnya, kemungkinan lebih rendah dibandingkan investasi saham.

Arti spekulasi

Banyak cerita yang menyajikan kesedihan tentang beberapa investasi “bodong”. Sebuah permainan uang ( money game ) yang berbungkus investasi. Anda setor sekian juta bisa menghasilkan keuntungan puluhan bahkan ratusa persen dalam waktu singkat. Siapa coba yang tidak „ngiler“ melihat duitnya berkembang biak ratusan persen dalam waktu singkat.

Namun begitulah akhir dari kisah investasi „bodong“, hilangnya aset yang kita miliki. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Apa sebetulnya yang salah ?

Benyamin Graham, guru dari suhu nya para investor Warren Buffet, mengakatakan demikian mengenai investasi :

an operation which, upon thorough analysis, promises safety of principal and an adequate return. Operations not meeting these requirements are speculative“.

Kalau diartikan dalam bahasa Indonesianya kira-kira demikian :

Sebuah cara kerja melalui analisa yang mendalam menjanjikan keamanan modal pokok dan tingkat keuntungan yang layak atau wajar. Operasi tanpa melibatkan persyaratan tersebut adalah spekulasi.

Dari pernyataan Benyamin di atas ada 3 unsur penting yang perlu diperhatikan oleh setiap investor :

  1. Menganalisa dengan cermat.

Ini dasar dari investasi. Sebelum anda meletakkan telur (aset anda ) dalam keranjang (produk investasi) anda perlu mengetahui seberapa baiknya keranjang tersebut. Anda perlu menganalisanya lebih cermat.

Apapun bentuk investasi yang anda pilih,  anda harus melakukan analisa yang mendalam. Bagaimana uang anda bisa berkembang ? Bagaimana prospeknya ? Apa risiko terburuk yang anda hadapi ? Langkah apa yang harus anda lakukan bila investasi anda merugi ? Apakah investasi ini mengganggu keuangan anda ? Apa yang harus anda lakukan ? Pertanyaan-pertanyaan ini seyogyanya menjadi alat bagi kita untuk melakukan analisa.

Data mengenai keranjang investasi perlu kita cari dan dapatkan. Data terseut kemudian dianalisa serta dipelajari. Pelajari kinerja-kinerja terdahulu, meskipun kinerja terdahulu kadang tidak mempengaruhi kinerja masa kini, namun setidaknya ada hal yang bisa didapat dari kinerja masa lalu.

Fact finding juga perlu dilakukan. Pencarian fakta untuk memperkuat dugaan bahwa keranjang investasi anda benar-benar nyata dan bekerja menghasilkan keuntungan. Tanpa fakta anda hanya berinvestasi berdasarkan rumor alias „katanya“. Bagaimana mungkin meletakkan aset anda dalam sebuah atau banyak keranjang investasi hanya bersandar pada rumor ?

Dulu saya sering ditawari peluang investasi untuk usaha yang dilakukan oleh teman. Beberapa teman datang dan menceritakan usaha yang mereka jalankan. Karena butuh modal, mereka meminta saya menanamkan uang pada usaha tersebut.

Karena teman dan modal percaya serta iming-iming return yang cukup tinggi, saya memberanikan diri untuk berinvestasi. Seluruh tabungan yang saya miliki saya investasikan dengan harapan memperoleh return yang dahsyat ! Padahal saya tidak paham benar bisnis yang mereka lakukan.

Singkat cerita, pembayaran hasil usaha hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu usaha tak lagi berjalan. Modal saya pun ikut menguap dan belum tertutupi oleh return yang saya terima. Tindakan saya ini merupakan contoh tindakan sepekulasi dalam berinvestasi. Maunya untung , malah buntung.

2. Semampunya menjaga agar modal pokok aman.

Aset yang anda investasikan sama seperti sapi perah di peternakan. Setiap hari sang peternak memerah sapi untuk diambil susunya. Susu tersebut dijual dan peternak memperoleh uang hasil keuntungan.

Tugas utama sang peternak adalah memastikan bahwa sapi baik-baik saja. Tidak sakit bahkan mati. Jika mati, maka peternak tidak lagi memperoleh susu bahkan asset berupa sapi pula turut hilang.

Tugas utama kita adalah menjaga modal pokok investasi kita tidak hilang. Aspek hokum perlu untuk memastikan hak dan kewajiban kita sebagai investor. Perjanjian yang dibuat antara investor dan investee (?) haruslah terang benderang. Tidak ada yang ditutupi hingga datanglah sesal kemudian hari. Bila perlu mintalah saran profesional untuk memastikan hal ini.

3. Menerima keuntungan yang layak.

Ujung dari investasi adalah memperoleh return. Seberapa besar return yang dijanjikan, langsung maupun tidak kerap menjadi jebakan dalam pengambilan keputusan investasi.

Anda sering mendengar,“ Hai, disana ada investasi bagus, hasilnya bisa 1000% lho“. Atau ketika anda membaca koran terdapat begitu banyak tawaran investasi yang berseliweran. Tentu dengan iming-iming return yang tinggi.

Kita juga dapat bertanya berapa sih sebenarnya keuntungan yang layak ? Seberapa besar keuntungan yang dihasilkan oleh sebuah bisnis tergantung dari banyak hal. Bidang apa yang digelutinya ? Tingkat persaingan usaha, penentuan harga , kondisi ekonomi dan lain sebagainya. Sekali lagi untuk mengetahui return yang wajar kita harus banyak mencari data dan informasi.

Bisnis makanan misalnya, dari beberapa pengalaman para sahabat yang menjalankan bisnis ini mampu meraup laba kisaran 50% dari penjualannya. Bisnis fashion pun setali tiga uang. Para peritel bisa mengambil untung di atas 50%.

Amir Fauzi, pemilik Jihadi cloting yang berbisnis busana muslim secara online, mengakui bahwa dalam sebulan ia mampu meraup omset sebesar 150 juta. Omset tersebut menghasilkan laba bersih sebesar 30%. (Tabloid peluang bisnis ). Dalam momen tertentu omset dan laba bersih dapat meningkat.

Perhatikan dengan cermat penawaran investasi yang menawarkan return tinggi dengan risiko rendah. Hal itu tentu melawan hukum investasi yang berkata sebaliknya : setiap investasi yang memberikan return tinggi akan memiliki risiko yang tinggi pula.

selamat berinvestasi !

Bagi yang punya ipad dan android bisa download ebook saya:
BERANI UTANG UNTUK INVESTASI PASTI UNTUNG!

Komentar
  1. gambar vektor mengatakan:

    dalam berinvestasi rupanya tidak hanya sekedar saja ya, tapi banyak pertimbangan karena ada risiko di dalamnya. makasih ya, cukup mencerahkan

  2. AA Kunto A mengatakan:

    Jitu sekali Mas Budi. Lanjutkan ya dengan bagaimana cara mengukur sebuah produk investasi yang layak kita ambil. Salam sempurna.

    • tipsbisnisuang mengatakan:

      produk investasi itu seperti kendaraan. Masing-masing memiliki karakteristiknya. Layak tidaknya sebuah investasi dilihat dari bnyk hal : 1. Return yang dihasilkan , 2. Prospek bisnisnya, 3. Faktor risikonya dan masih banyak lagi. Saya akan ulas pada tulisan-tulisan selanjutnya. Thanks sahabat. Salam sempurna !

  3. ika mengatakan:

    jdi spekulasi bsa b’dampak negatif n postif…

  4. pron pronvideos pron mengatakan:

    Thanks for the good writeup. It in reality was once a amusement account it.
    Look complicated to more delivered agreeable from you!
    By the way, how could we communicate?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s