NEOLIBERLISME VS EKONOMI KERAKYATAN (Ada apa dengannya

Posted: Mei 22, 2009 in bank, bisnis, cashflow, customer relationship, hutang
Tag:

timbanganCap ekonom neoliberalis saat ini sedang ramai-ramainya ditunjukkan pada Pak Boediono. Calon wapres pilihan Pak SBY ini , belakangan sibuk melakukan tangkisan tuduhan-tuduhan dari berbagai pihak terhadap dirinya.

APa toh neoliberalisme itu ? Lantas apa pula ekonomi kerakyatan yang menjadi lawan dari paham neoliberalisme. Layakkan mereka disandangkan pada Indonesia ?

Neoliberalisme jika ditilik dari artinya ( wikipedia ) merupakan paham ekonomi yang menyerahkan seluruh aktivitasnya pada pasar bebas. Artinya tidak ada seorangpun termasuk pemerintah yang boleh campur tangan terhadap pasar. Pasar dibiarkan bergerak semaunya tanpa intervensi apapun.

Kritik terhadap neoliberalisme mengacu pada : manusia ataupun negara di dunia ini tidak memiliki kemampuan yang sama. Akhirnya : yang kuat semakin kuat, yang lemah semakin lemah.

Ekonomi kerakyatan ditandingkan dengan neloliberlisme. Ekonomi kerakyatan merupakan paham dimana perekonomian bersandar pada pelaku-pelaku usaha kecil menengah ( UKM ). Artinya para pelaku UKM ini yang memberikan kontribusi pada perekonomian kita.

Harus diakui ketika ekonomi kita mengalami krisis, UKM adalah bumper perkonomian kita. Mereka kuat ditengah limbungnya kondisi ekonomi yang tengah sekarat.

Saya tidak setuju neoliberalisme diterapkan dinegeri ini. Namun kita juga tidak menutup mata bahwa dunia telah berubah. Globalisasi telah melanda semua penjuru dunia. Nah inilah yang harus kita gunakan sebaik mungkin. Gimana caranya menggunakan uang-uang yang berkeliaran untuk membangun UKM. Bagaimana caranya pemerintah menggunakan powernya untuk menciptakan kondisi bisnis yang kondusif bagi UKM. Gimana caranya lagi, uang-uang yang ngendon di SBI bisa digunakan di sektor riil.

Tapi saya memilih untuk mengoreksi diri. Bagaimana caranya supaya kita, para pelaku UKM bisa bahu membahu membangun UKM yang kuat. Hingga mampu menjadi pondasi bagi bangsa ini. Saya kira masalah UKM tidak hanya berkutat pada tingginya bunga pinjaman atau sulitnya memperoleh kredit bank, namun lebih jauh dari itu, mampukah para UKM membangun kredibilitas dirinya menggunakan uang orang lain. Menjadi pribadi-pribadi yang dapat dipercaya, jujur dan ulet harus kita mulai saat ini.

So, para UKM’ers..bersiaplah menjadi pemenang di era wave ini. Kita harus menggunakan kesempatan apapun yang kita miliki untuk membangun bisnis kita. Buka dan buka lagi usaha yang bisa kita lakukan, agar supaya saudara-saudara yang masih menganggur dapat bekerja.

Kepalkan tangan ! Rapatkan barisan ! Mari berusaha !

Salam sempurna !

Komentar
  1. made wijaya mengatakan:

    saya setuju dengan ekonomi kerakyatan
    apapun alasannya pondasi harus dibangun dari akar rumput bukan dari dahan yang tinggi.
    ibarat bikin rumah pondasinya harus kuat dulu bukan dibiarkan mengambang bebas.
    amerika aja kebablasan dan mengakui sebagai suatu kelemahan sistem ekonomi dan bisa fatal (negara bisa bangkrut).
    apalagi Indonesia yang tergolong SDM dominan dibawah standar, yang ada kaum terjajah. mungkin ini yang nantinya disebut dengan imprialis baru.
    orang pintar jangan membodohi rakyat yang bodoh. pembuat kebijakan hati-hati dalam membuat kebijakan, apalagi menyangkut orang banyak dan keberlangsungan berbangsa dan bernegara. salah kebijakan bisa menghancurkan 250 juta rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s