KONSUMEN TELAH MENJADI KUCING

Posted: Maret 24, 2009 in bisnis, customer relationship, hutang, modal

asu1Jaman sudah berubah. Maka tak heran dunia bisnis pun harus berubah. Perubahan yang selalu ada dan pasti akan selalu ada.

Bila perubahan selalu ada, maka pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah dimana posisi kita sebagai pebisnis ? Sebagai orang yang diberi tanggungjawab oleh Tuhan untuk mengemban salah satu talenta pemberian-Nya. Mari kita lihat.

Sekarang pelanggan atau konsumen yang kita hadapi telah berubah tingkah lakunya. Dulu, di era produksi, setiap produsen dengan mudahnya “memaksa” konsumen untuk membeli produknya. Dengan berbekal media televisi , yang kala itu jumlahnya masih sedikit (dan belum ada media-media komunikasi lain seperti internet, handphone dll) , dengan mudah promosi disampaikan. Tidak terlalu sulit mempengaruhi benak konsumen bahwa produk A , misalnya, mampu menjawab kebutuhan bahkan hasrat anda.

Namun lihatlah sekarang. Di era wave ini, konsumen tidak gampang untuk dibujuk. Benaknya telah penuh dengan informasi. Berbagai iklan masuk ke dalam benak kita. Dan terkadang membuat konsumen sulit untuk mengambil keputusan. Dunia terlalu bising oleh iklan-iklan yang membuang ratusan bahkan milyaran rupiah.

Ivan Pavlov, seorang ilmuwan rusia melakukan penelitian terhdap anjing untuk membantunya memahami pencernaan manusia. Disuatu pagi, pavlov menuju laboraturiumnya. Ia melihat sang asisten sedang mengelus-elus seekor anjing. Pavlov mengamati si anjing. Anjing tersebut terus menerus mengeluarkan air liurnya ( tetesan air liur itu pertanda bahwa si anjing memikirkan makanan ).Apa yang menyebabkan anjing itu berpikir seperti itu ? Jawabannya adalah sang asisten menggunakan jas laboraturium ketika menggendongnya. Lantas apa hubungannya ? Ternyata , sang asisten selalu memberi makan anjing dengan mengenakan jas laboratorium. Dalam benak anjing, jika sang asisten mengenakan jas, maka ia memikirkan makanan.

lain lagi dengan kucing.Satu perbedaan mendasar antara anjing dan kucing adalah masalah motivasi. Anjing adalah hewan yang selalu bersikap menjaga , setia, penyayang dan tanpa pamrih. Sementara kucing bersifat, soliter dan bertindk untuk kepentingannya sendiri.

Gamabaran kucing dan anjing ini bisa kita gunakan sebagai analog konsumen saat ini. Dulu mereka seperti anjing. Bila kita mengganti jas laboratorium dengan bel maka mereka akan datang. Bel tersebut adalah iklan yang hebat, yang membantu terciptanya merek. Tapi itu dulu ketika sarana informasi masih sangat terbatas. Sekarang dengan sarana informasi yang kian banyak (televisi berlangganan, Sms, MMS,E-mail, blog, dll), informasi tidak lagi berada di tangan produsen namun sudah berada di tangan konsumen.

Akibatnya, konsumen kini tak lagi bersikap seperti anjing namun lebih bersikap layaknya kucing. Mereka terkesan tak perduli dan semakin memperhatikan informasi yang penting bagi mereka.

Siap-siap memanggil para kucing !

Inspirasi : Waiting for your cat to Bark

Komentar
  1. zee mengatakan:

    Hmmm… analogi yg bagus mas.

  2. Sularsi mengatakan:

    setuju, konsumen semakin pinter karena mendapat informasi. dan konsumen telah melakukan perannya sebagai penentu (defender. Tapi selaku pebisnis jika melakukan dengan informasi yang benar dan service yang baik kepada konsumen maka konsumen akan menjadi informan buat konsumen yang lain. dan pastinya anda akan dicari konsumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s