BERHUBUNGAN DENGAN BANK

Posted: November 17, 2008 in bank
Tag:

bank1Sebenarmya berurusan dengan bank tidak sesulit yang dibayangkan. Hanya saja, bank adalah sebuah lembaga keuangan yang memang memiliki aturan tersendiri. Nah, sebagai calon nasabah, kitalah yang seharusnya bisa memahami aturan-aturan tersebut.

Pada dasarnya bank dalam memberikan kredit atau pinjaman mendasarkan diri pada beberapa hal yaitu :

Apakah calon nasabah layak untuk diberikan pinjaman.

Pertanyaan pertama ini berkaitan erat dengan kepribadian nasabah dan pengalamannya berusaha. Dalam memberikan pinjaman, tentu bank menginginkan dana yang diberikan berada ditangan yang tepat. Sebab, uang yang dipinjamkan kepada nasabah sebenarnya bukan uang bank, tetapi uang orang-orang yang menabung di bank. Jadi dalam hal ini, bank memegang mandat para penabungnya untuk mengelola uang yang disimpan di bank tersebut dengan baik dan benar. Singkatnya, karakter dan kebiasaan nasabah sangat diperhatikan oleh bank. Bagaimana jadinya jika bank memberikan pinjaman kepada nasabah yang gemar berjudi , misalnya. Orang –orang seperti itu dimata bank memiliki risiko kredit yag cukup tinggi.

Seberapa lama nasabah menjalankan usahanya juga merupakan salah satu point penting. Semakin lama nasabah menggeluti bisnis tersebut maka pengalamannya pun semakin baik. Bank melihat bahwa pengusaha tersebut memahami dan menguasai seluk beluk bisnis yang dijalankannya.

Apakah usahanya layak untuk diberikan pinjaman.

Inti dari pemberian kredit kepada nasabah adalah masalah kepercayaan. Jika bank percaya bahwa usaha anda layak diberikan pinjaman maka anda akan menerimanya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana agar usaha anda layak untuk dipercaya ?

Anda butuh bukti untuk membangkitkan kepercayaan bank kepada anda. Bukankah cinta juga membutuhkan bukti ? begitu pula dengan bank , ia membutuhkan bukti bahwa anda layak dipercaya.

Bukti yang diinginkan bank adalah rekaman kegiatan usaha anda dalam bentuk data-data yang bisa diperiksa. Dengan kata lain anda harus memiliki pembukuan (meskipun sederhana) dan menyimpan data-data yang berhuibungan dengan usaha anda dengan baik. Saran saya, buatlah pencatatan-pencatatan mengenai keuangan anda. Berapa penjualan anda setiap bulan, berapa pembelian barang setiap bulannya, catatlah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan setiap bulannya. Kemudian, catatan tersebut diperkuat dengan nota-nota penjualan, surat order, kuitansi pembelian dan sebagainya. Apabila anda memiliki tabungan atau giro di bank, simpananlah baik-baik buku tabungan. Semua hal itu akan diminta bank sebagai bukti membangun kepercayaan tadi.

Apakah nasabah mampu membayar kembali pinjamannya dari usaha tersebut.

Kalau anda diberikan pinjaman oleh bank, maka akan muncul kewajiban yaitu membayar angsuran pinjaman berupa angsuran pokok pinjaman dan bunga. Besarnya cicilan pinjaman ini sangat tergantung dari besarnya nilai pokok pinjaman atau yang lebih dikenal dengan plafond kredit, jangka waktu pinjaman, sistem perhitungan bunga dan besarnya tingkat bunga.

Biar tidak bingung kita lihat contoh di bawah ini.

Pak Ali meminjam uang di Bank Untung sebesar 10 juta dengan jangka waktu 2 tahun. Bunga yang dibebankan sebesar 12% per tahun dengan cara perhitungan bunga Flat.

Dari contoh di atas pak Ali memiliki kewajiban membayar angsuran pinjamannya sebesar :

Angsuran pokok 10 .000.000 / 24 bulan 416.666

Bunga 10.000.000×24% /24 bulan 100.000

Total angsuran pokok+bunga /bulan 516.666

Jadi Pak Ali memiliki kewajiban mengangsur pinjamannya sebesar 516 ribu rupiah setiap bulannya selam 24 bulan.

Bank akan menghitung apakah sebagian keuntungan usaha Pak Ali, sanggup untuk digunakan sebagai angsuran pinjaman yang diberikan. Mengapa hanya sebagian dari keuntungan ? ya, kalau seluruh keuntungan dari usaha tersebut digunakan untuk mengangsur di bank, otomatis usaha tersebut tidak akan tumbuh. Usaha tidak bisa memperoleh tambahan modal sendiri, yang diharapkan dari keuntungan tersebut.

Jika dibutuhkan jaminan, apakah nasabah memiliki jaminan tersebut.

Masalah jaminan terkadang menjad batu sandungan bagi nasabah dalam memperoleh kredit. Bahkan, ada pameo yang mengatakan pinjaman di bank identik dengan jaminan.

Jaminan pada dasarnya adalah sebuah alat tambahan bagi bank untuk menekan risiko pinjaman yang diberikan kepada nasabah. Bisnis perbankan memang bisnis penuh risiko. Disatu pihak ia memgang mandat nasabah simpanannya. Bank harus mengelola dengan baik dana-dana simpanan tersebut sekaligus memberikan kompensasi kepada nasabahnya berupa bunga. Dilain pihak ia juga harus mengucurkan pinjaman kepada masyarakat yang memerlukan. Jadi jelas, posisi bank berada dalam suatu tingkat risiko tertentu. Untuk itulah bank menganggap perlu untuk kondisi-kondisi tertentu mereka membutuhkan jaminan sebagai sarana menurunkan risiko tadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s