MAKSIMALKAN ASET KITA !

Posted: November 5, 2008 in Uncategorized
Tag:

images2

Persaingan bisnis era ini luar biasa ketatnya. Pelanggan betul-betul menjadi raja. Bahkan beberapa pakar pemasaran mengatakan bahwa , perang sesungguhnya bukan lagi pada benak pelanggan. Tetapi telah menghujam ke dalam benak pelanggan.

Persaingan antar entitas bisnis sudah pemandangan biasa saat ini. Bukan saja antar perusahaan-perusahaan domestic, namun juga antar negara.

Tentu saja persaingan itu menimbulkan tantangan baru bagi pebisnis. Tantangan yang tentu saja bagi yang siap dan dapat dikelola dengan baik dapat memperoleh manfaat. Sedangkan bagi yang tidak siap, mau tidak mau, dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan. Meskipun demikian tantangan-tantangan yang ada memunculkan ide-ide baru nan segar. Benang merah dari munculnya persaingan ini setiap perusahaan dalam industri apapun harus selalu memiliki sikap eling lan waspada.

Mari sejenak kita lihat apa yang telah terjadi pada lingkungan kita. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan agar anda dapat jelas melihat berada dimana posisi bisnis anda saat ini.

Pertama, teknologi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi membawa dampak besar bagi kehidupan kita. Bahkan mungkin, budaya kita. Ambil contoh, hadirnya telepon seluler yang saat ini sudah menginjak masa generasi ke 3 , membawa perubahan gaya hidup. Berkomunikasi menjadi lebih mudah. Kapan pun dan dimanapun kita berada berkomunikasi tetap dapat dilakukan.

Demikian juga dengan kecanggihan internet. Internet yang telah berkembang pesat tidak lagi menjadi dunia maya. Tetapi menjadi dunia nyata ! Disana , terjadi transaksi bisnis yang bernilai tinggi. Transaksi bisnis, seperti jual beli yang tadinya sulit dan rumit, dapat dipermudah dengan hadirnya internet.

Demokratisasi telah terjadi dan menjadi leader dalam dunia bisnis. Siapapun boleh memasuki dunia internet, untuk tujuan apapun, khususnya bisnis. Tengok saja kiprah bank-bank papan atas Indonesia. Seolah tidak mau kalah, mereka ramai-ramai menggunakan internet sebagai alat mengembangkan bisnis. Bank-bank papan atas Indoensia seperti BCA, BRI, Lippo Bank, BNI telah menggunakan kecanggihan internet ( internet banking ) sebagai sarana meningkatkan pelayanan nasabah. Tentu saja peningkatan pendapatan juga !

Kemajuan teknologi membawa persaingan. Siapa yang menggunakan teknologi canggih sehingga membuat pelanggan membayar lebih murah, lebih mudah, lebih cepat dengan kenyamanan yang tinggi, memiliki kesempatan lebih besar untuk menghasilkan uang. Namun sayangnya, teknologi mudah sekali ditiru. Besok akan ada lagi teknologi baru yang muncul. Teknologi yang kita pakai saat ini kemungkinan besar akan usang tidak alama lagi. Kita sebelumnya tidak membayangkan, bahwa akhirnya China pun bisa membuat computer jinjing alias Laptop dengan brand yang cukup kuat bernama Lenovo.

Semestinya kemajuan teknologi juga membawa peluang bagi bisnis kita. Sekecil apapun, saya yakin peluang itu pasti ada. Bisakah bisnis anda menangguk uang dari kemajuan teknologi ini ?

Kedua, Globalisasi Pasar. Naiknya harga minyak mentah dunia kemudian diikuti dengan naiknya harga pangan dunia membuat daya beli konsumen menjadi menurun. Celakanya hal ini terjadi di hamper seluruh penjuru dunia. Bahkan para pakar ekonomi sempat mengingatkan akan adanya gelombang resesi dunia.

Penurunan ini tidak hanya terjadi pada ekonomi nasional kita saja. Seluruh dunia merasakannya. Bahkan negara Paman Sam, Amerika Serikat turut pula merasakannya. Kekuatan ekonomi yang telah menghegemoni dan menggurita di seantero dunia, seakan tidak mampu menyangga perekonomiannya yang tengah goyah. Jelas bahwa saat ini banyak negara yang menderita. Pengangguran meningkat, inflasi meningkat dan daya beli menurun.

Ya, sekarang semua telah berubah. Globalisasi pasar memang telah lama mengkuiti kita. Bahkan jauh-jauh hari, para ekonom telah memperingatkan bahwa , siapa yang tidak siap akan terlindas oleh globalisasi.

Perdagangan global yang akhirnya memunculkan persaingan dagang yang eksplosif. Semua pasar telah terbuka. Tidak ada infromasi yang tertutup. Tidak ada yang memonopoli. Sekarang siapa saja yang dapat memberikan yang diminta konsumen, entah harga murah, atau kualitas produk terbaik dapat mempertahankan pasarnya. Bahkan menguasai pasar. Tapi siapa yang tidak bisa memenuhinya, perlahan tapi pasti akan kehilangan pelanggannya. Kehilangan pelanggan berarti kehilangan uang. Bisnis tanpa uang ? Mati !!

Apa artinya ini semua ? Apakah kita harus pesimis untuk terus menjalankan binis ? Untuk terus menghasilkan uang ?

Ketiga, penurunan profit margin.

Dalam banyak industri ini sudah terjadi. Naiknya harga-harga bahan baku memaksa para pebisnis menghitung ulang struktur biaya. Apesnya lagi, meskipun semua biaya mengalami kenaikan, harga pun tidak bisa serta merta diturunkan. Selain factor daya beli yang menurun, pasar juga sudah penuh.

Kemudian, hal yang sebenarnya paling dihindari, Perang harga, tidak dapat dielakan. Lihat saja persaingan para operator telepon selular. Sebut saja dua raksasa operator nasional Indosat dan Telkomsel. Mereka berlomba mengklaim dirinya sebagai operator selular termurah. Konsumen di bom bardir oleh iklan yang memberitahukan bahwa merekalah operator yang termurah. Tentu saja dengan berbagai prasyarat dan kondisi. Tapi intinya, mereka ingin pelanggan tahu bahwa mereka yang termurah. Belum lagi dengan kehadiran operator baru di industri ini. Semakin riuh rendah saja persaingannya.

Penurunan profit margin akan mempersempit pertumbuhan sebuah binis dalam jangka panjang. Dari kacamata pemasaran, hal yang paling mungkin dilakukan adalah menggenjot penjualan setinggi mungkin. Tapi selain itu , apa yang bisa anda lakukan ?

Salah satu jurus untuk membawa banyak uang ke dalam bisnis anda adalah memberdayakan asset yang anda miliki. Memang, memberdayakan asset untuk memperoleh uang bukanlah jurus baru. Tetapi di era bisnis dimana margin laba semakin mengecil, kita harus tetap cerdas memberdayakan segala asset yang kita miliki.

Secara histories, masalah optimalisasi asset dimulai sejak Du Pont formula ditemukan disekitar tahun 1920-an. Du Pont menuliskan formula nya dakam bentuk rasio sebagai berikut :

Return On Asset ( ROA ) = profit / total aset

Dari formula tersebut secara sederhana menggambarkan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari setiap satu rupiah dalam bentuk asset yang digunakan. Tujuan dari rasio ROA adalah mengetahui sejauh mana tingkat efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktivanya untuk meraih laba. Semakin tinggi rasio ROA berarti semakin efektif dan efisien perusahaan mengelola assetnya untuk memperoleh laba.

Apa artinya formula Du Pont bagi kita para pebisnis ? Menurut saya benang merahnya adalah pada optimalisai asset kita. Seberapa kecilpun asset, ia harus dapat bekerja untuk memperoleh uang. Kita harus dapat menghindari kata-kata : “ ada asset tidur dalam bisnis kita “.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s