google-rankingsIni baru berita! Sebagai seorang yang hobi menulis dan tentu saja menjual tulisannya, kabar ini membawa angin segar. Mirip-miriplah kalau pas lagi haus terhidang segelas es kelapa muda di hadapan kita.

Banyak teman yang bilang begini,” Susah ya mau download ebookmu, harus pake kartu kredit!” Nah, sekarang bagi temen-temen yang menggunakan telepon selular dengan operator INDOSAT (IM3, MENTARI & MATRIX) sudah bisa mendownload berbagai buku yang dijual di google books. Oleh sebab itu, saya segera meng-upload ebook-ebook saya ke google plays. Harapannya ya itu tadi supaya temen-temen yang mau baca ebook saya tapi tidak punya kartu kredit bisa ikut memmbaca.

Yah, mudah-mudahan operator-operator lain seperti SIMPATI dan XL bisa mengikuti jejak langkah INDOSAT. Kalau sudah begitu, para manusia-manusia kreatif Indonesia masih tetap cemungut.

Mau coba lihat ebook saya di google? Silakan di klik :

SUKSES UBAH KARTU KREDIT JADI MODAL USAHA!

https://books.google.co.id/books?id=zDxrBQAAQBAJ&pg=PA4&dq=sukses+ubah+kartu+kredit&hl=id&sa=X&ei=Kf6TVOXmL46duQTQ-4HwCQ&ved=0CC8Q6AEwAA#v=onepage&q=sukses%20ubah%20kartu%20kredit&f=false

BERANI UTANG UNTUK INVESTASI PASTI UNTUNG!

https://books.google.co.id/books?id=czdrBQAAQBAJ&pg=PA12&dq=berani+utang+untuk+investasi&hl=id&sa=X&ei=5gGUVIfEI9WXuATmq4GgCA&ved=0CBwQ6AEwAA#v=onepage&q=berani%20utang%20untuk%20investasi&f=false

Selamat membaca ya..Maaf saya lagi bertapa menyelesaikan bukunya Pak Jokowi. :P


Maaf, saya begitu lama menelantarkan blog ini. Bukan karena lagi bete, tetapi memang ada banyak hal yang harus saya kerjakan termasuk menulis beberapa buku lagi

kali ini saya ingin mengajak Anda, pengunjung sekaligus sahabat saya untuk mencermati sepak terjang gubernur DKI yang unik ini. Ya, siapa lagi kalau bukan Joko Widodo alias Jokowi.

Terus terang saya sedang menyusun sebuah buku yang “menuduh” Mr. Jokowi sebagai seorang yang radikal. Ups..tenang…radikal disini bukan seseorang yang mau pasang bom untuk menghancurkan kehidupan, namun lebih jauh dari itu. Saya dengan senang “menuduh” Jokowi adalah seorang marketer sekaligus leader yang radikal.

Dasarnya apa saya menuduh bahwa Jokowi seorang pemimpin dan pemasar yang radikal? Ya..karena apa yang dia lakukan persis seperti para pemasar sekaligus pemimpin bisnis dunia yang menerapkan gaya pemaaran radikal.

Nah, berikut ini adalah salah satu bab yang saya tulis dalam sebuah buku mengenai Jokowi dan gaya kepemimpinannya. Berikan feedback ya..saya sangat membutuhkannya. Selamat membaca!

The BLUSUKAN WAY

Bagi para pemasar radikal yang sekaligus berperan sebagai seorang pemimpin, data-data yang diperoleh dari “tangan kedua” tidaklah begitu menyenangkan. Mereka lebih suka memperoleh data langsung dari mulut para pelanggan. Sementara itu Para pemasar tradisional cenderung lebih senang dengan data-data sekunder yang mereka peroleh. Dari balik meja mereka yang kinclong, mereka akan mengolah data-data itu menjadi sebuah data yang menurut mereka akan menampilkan suara pasar yang sesungguhnya.

Bagi pemasar sekaligus pemimpin radikal, data sekunder hanya akan menciptakan bias. Mereka akan segera meninggalkan kantor dan keluar menuju pihak yang ingin mereka dengar secara langsung yaitu : pelanggan!

Pemasar radikal sangat suka mendengar gunjingan dari para pelanggan. Telinga mereka berdiri tegak sembari mendengarkan dengan penuh perhatian tentang ketidaksukaan pelanggan terhadap produk yang mereka miliki. Dengan hati-hati pula, pemasar radikal akan menerima suara-suara pelanggan mengenai kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh para pesaing. Suara yang jernih tanpa bias langsung dari pelanggan sepertinya menjadi data tervalid yang tak boleh dilewatkan. Jim Koch, pendiri sekaligus CEO Boston Beer Company, adalah salah satu pemasar dan pemimpin radikal yang melakukan hal itu.

Industri Bir Amerika Serikat memang begitu menarik untuk disimak. Bukan saja karena nilai pasarnya yang besar, pertarungan antar merek bir pun begitu sengit. Para pemain besar seperti Budweiser, Anheuser-Busch, dan Miller adalah “beruang” dalam rimba belantara pasar Bir Amerika Serikat.

Ditengah persaingan sengit industri bir pabrikan, industri bir peraman rumahan atau yang dikenal dengan craft beer, bangkit dan menarik perhatian para “beruang”. Craft beer merupakan bir yang diperoduksi secara terbatas di pabrik-pabrik kecil. Kalau boleh dikatakan miriplah dengan industri makanan dan minuman kecil di Indonesia. Mereka tidak memiliki pabrik yang besar serta mesin yang begitu canggih seperti merek-merek bir besar lainnya. Namun meskipun diproduksi secara terbatas rasa dari bir craft tersebut tidaklah kalah dengan bir besutan pabrik. Bahkan, oleh sebagian penggemarnya, bir craft memiliki rasa yang jauh lebih enak dan unik.

Boston Beer Company yang memiliki merek Samuel Adams merupakan salah satu dari puluhan produsen bir craft. Sejarahnya dimulai saat Jim Koch mendirikan perusahaan di tahun 1984. Saat itu Boston Beer menjadi perusahaan yang mengalami pertumbuhan yang pesat. Mungkin bukan dalam hal kuantitas, namun kualitas produk.

Di pasar bir craft, Boston Beer menjadi yang terdepan. Setiap tahunnya Boston berhasil memeram lebih banyak bir, jumlahnya setara dengan lima pemeram bir craft pesaing terdekatnya. Kondisi ini tentu saja membuat para pesaing Boston Beer menjadi terperangah dan iri.
Jim Koch yang konsisten menjalankan strategi pemasaran radikalnya, tak hanya membuat pesaingnya di industri bir craft ketar-ketir. Para bir pabrikan seperti Anheuser-Busch seperti kebakaran jenggot. Pasalnya, pelan tapi pasti penjualan bir merek Samuel Adams sedikit mengganggu eksistensi merek bir pabrikan.

Apa yang dilakukan oleh Jim Koch, hingga mampu membangunkan “beruang” tidur?

Jim Koch melakukan apa yang seharus nya dilakukan oleh pemasar radikal. Ia mempekerjakan para misionaris yang bersemangat tinggi untuk menjual birnya, secara konstan meninjau terus bauran pemasarannya, memusatkan perhatian pada penjualan tatap muka, dan masuk ke dalam berbagai komunitas penikmat bir.
Lantas dari mana ia memperoleh data dari pelanggannya?
Ini yang menarik!

how-i-built-my-business-sam-adams-cover (2)Saat Koch memulai usahanya, ia menjual sendiri produk bir craftnya. Saat itu ia memproduksi birnya yang pertama tanpa diberi label. Ia masukkan beberapa bir ke dalam tas kopornya dan berjalan menuju sebuah bar di daerah rumahnya.

Sang manajer bar pertamakali menggelengkan kepala saat Koch menawarkan birnya. Tetapi pria itu tidak mau menyerah, dengan keterampilannya ia berhasil mendesak manajer bar untuk mencicipi bir buatannya. Sang manajerpun akhirnya mengikuti kemauan Koch. Setelah mengendus dan meneguk bir beberapa kali, manajer bar tadi memutuskan untuk membeli bir buatan Koch sebanyak 25 kotak bir. Koch sukses melakukan penjualannya yang pertama.

Apa yang dilakukan Koch, pergi ke bar guna bertatap muka dengan pelanggannya tak pernah dihentikannya hingga Boston Beer menjadi besar. Ia dengan penuh konsisten menjalankan cara itu: bertemu dan selalu dekat dengan pelanggan. Darisanalah Jim Koch menemukan apa yang disukai dan tidak disukai oleh pelanggannya.

Kebiasaan “blusukan” Koch diturunkan kepada para misionarisnya. Mereka selalu menjaga kedekatan dengan para pelanggan. Rutin mengunjungi dan berbincang akrab menjadi kebiasaan yang harus dimiliki oleh setiap pemasar Boston Beer. Tak jarang pemasar Boston melakukan pelatihan gratis bagi para karyawan bar untuk memberikan pemahaman tehadap produk mereka.

Staf pemasaran menjadi pengumpul data yang bisa diandalkan. Mereka langsung memperoleh data dari sumbernya, kemudian melaporkan hal itu kepada para atasannya. Data-data valid itu kemudian digodok untuk mengambil sebuah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.

Blusukan ala Jokowi

Jim koch tinggal di Amerika Serikat, seandainya dia menetap di tanah Jawa pasti kita akan memberikannya predikat orang yang senang “blusukan”. Bukan apa-apa, kata “blusukan” itu sekarang sedang menjadi kata yang populer untuk diucapkan dan ditemukan dalam berbagai macam tulisan.

Sebenarnya, blusukan itu merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa jawa yaitu “blusuk”. Menurut kamus Bahasa Jawa yang disusun oleh Widodo, dkk, “blusuk” memiliki arti “masuk kemana-mana”. Dengan tambahan akhiran –an, maka blusukan menunjuk pada aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk masuk ke tempat yang asing guna memperoleh sesuatu. Lebih jauh, “memperoleh sesuatu” bisa mengandung makna mengenal keadaan dan kondisi suatu tempat secara alami tanpa ada rekayasa.

Jadi kalau ada pejabat atau siapapun yang “blusukan” namun disambut meriah seolah sudah dipersiapkan sebelumnya, aktivitas itu tidak layak disebut “blusukan”. Karena makna “blusukan” yang asli adalah tanpa rekayasa.

Jim Koch dan para misionarisnya melakukan “blusukan” ke tempat-tempat dimana mereka bisa bertemu secara langsung dengan pelanggan. Dari “blusukan” itu tim Boston Beer menemukan “sesuatu” yang bisa diolah untuk mengambil strategi atau kebijakan guna memperbaiki pelayanan mereka kepada pelanggan.

Jokowi juga terkenal dengan aksi “blusukan”-nya. Setiap hari yang kita tahu dari media, suami dari Iriana itu tak pernah berlama-lama berada di kantornya. Pak Guberur pasti berada di lapangan dan “blusukan” kemana-mana.

blusukanApa yang dilakukan oleh Jokowi mirip dengan yang dilakukan oleh para pemasar dan pemimpin radikal. Turun langsung ke sumber data yaitu pelanggan. Tak hanya sekedar bertemu, namun pemasar radikal akan berbincang dengan penuh semangat untuk memperoleh informasi mengenai apa yang sedang terjadi. Juga, memberikan informasi balik mengenai apa yang akan mereka lakukan untuk kepentingan pelanggan.
Kasus pemindahan Pedagang Kaki Lima (PKL) Pasar Tanah Abang merupakan salah satu contoh hasil dari “blusukan” Sang Gubernur.

Kita sudah paham bahwa Pasar Tanah Abang merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar. Tidak hanya untuk Indonesia, namun juga Asia Tenggara. Anda bisa menjumpai para saudagar yang berasal dari berbagai negara melakukan transaksi dagang di pasar ini.
Layaknya pasar yang besar, Pasar Tanah Abang terbagi atas berbagai zona. Salah satu zona yang menjadi pusat perhatian adalah Blok G. Mengapa jadi pusat perhatian? Karena di blok G-lah biang kemacetan Pasar Tanah Abang. Adalah para PKL yang berjualan di pinggir jalan, mereka yang jumlahnya hampir menyentuh angka 700 itu membuka lapak-lapak dagangan hingga menutupi badan jalan. Macet..macet…dan macet adalah gambaran sehari-hari di Blok G itu.

Jokowi mau membereskan kesemrawutan Blok G. Maka ia melakukan “blusukan” dan memperoleh beberapa informasi:

Pertama, PKL tidak mau pindah karena bila masuk ke dalam pasar mereka takut omset penjualan mereka akan turun karena sepi pembeli.

Kedua, para pedagang itu sebagian pernah menetap di dalam pasar namun kemudian berhamburan keluar berdagang di pinggir jalan. Selain alasan sepi, saat itu kios yang mereka tempati diambil alih oleh pihak swasta.

Ketiga, ada sekelompok orang atau ormas yang terganggu kepentingan ekonomi dan sosialnya bila para PKL masuk ke dalam pasar. Maklum, kelompok atau individu itu adalah mereka yang meng-klaim dirinya sebagai pihak yang berhak untuk mengatur dan melindungi keberadaan PKL. Tentu saja perlindungan itu harus dibayar dengan imbalan uang yang ditarik setiap hari. Bila para PKL masuk ke dalam pasar artinya uang setoran akan lenyap.

Jokowi pasti mengetahui hal ini. Ia bergerak cepat meski berisiko tinggi. Sebagai pemimpin radikal ia menggunakan cara-cara yang sebenarnya memang perlu dilakukan oleh seorang pemimpin tanpa pamrih atau kepentingan apapun.

Pertama, Jokowi memperbaiki kios Blok G. Ia memerintahkan jajarannya untuk mengebut renovasi pasar siang dan malam. Perintah ini tak hanya sekedar perintah, namun seperti kebiasaan Jokowi, ia selalu mengawasi secara langsung apa yang sedang dikerjakan.

Kedua, Jokowi mengadakan pertemuan dengan para perwakilan PKL memberikan informasi mengenai langkah-langkah apa yang akan ia lakukan dan mendengarkan keluhan-keluhan juga keinginan para pedagang.

Ketiga, Jokowi juga mengadakan pembicaraan dengan individu-individu yang dianggap sebagai sesepuh pasar Tanah Abang.

Keempat, Jokowi mengumpulkan data para PKL yang berdagang di pinggir jalan. Mereka memperoleh prioritas untuk menempati kios-kios Blok G. Supaya ada keadilan, penentuan lokasi kios dilakukan dengan cara mengundi.

Kelima, ketakutan pedagang bahwa kios mereka sepi pembeli, dijawab Jokowi dengan mengadakan berbagai strategi pemasaran. Ia memerintahkan untuk membuat berbagai acara pertunjukkan di Blok G dengan tujuan akan menarik minat masyarakat mengunjungi Blok G. Selain itu Jokowi juga sedang memperbaiki akses penyeberangan menuju Blok G, agar mudah dijangkau oleh pembeli. Berbagai fasilitas pendukung seperti mesin ATM dari perbankan juga sedang dipersiapkan. Termasuk mmembangun food curt yang diberikan fasilitas jaringan internet.

Keenam, Para pedagang dibebaskan dari restribusi selama 6 bulan pertama. Setelah 6 bulan barulah mereka membayar restribusi harian.
Biasanya aksi relokasi PKL selalu diwarnai dengan saling kejar dan pukul antara Satpol PP dan PKL. Namun kali ini relokasi PKL bisa dikatakan berlangsung dengan lancar dan tertib. Tanpa ada perlawanan, tanpa ada aksi kekerasaan yang sering kita lihat di televisi, para pedagang mau menempati kios-kios yang sudah disediakan. Pemilihan hari pembongkaran lapak juga sangat mendukung. Sebelum para PKL kembali ke Jakarta sehabis mudik lebaran, lapak-lapak mereka sudah dibongkar. Itu juga menurunkan risiko terjadinya bentrok antar PKL dan petugas.

Wajah Blok G kini sudah berubah. Disana kita tak lagi menjumpai jalan yang macet dan saluran air yang mampet. Yang ada saat ini adalah jalan yang lancar juga trotoar untuk pejalan kaki yang lapang.

Blusukan Tanpa Polesan

Tidak bisa disangkal, sebagai seorang Gubernur yang berangkat dari Partai Politik, kesan politisasi blusukan sebagai cara untuk mengangkat citra diri selalu diarahkan pada Jokowi. Apalagi saat menjelang Pemilu dimana para politikus berlomba-lomba menampilkan citra diri yang positif. Tujuannya apalagi kalau bukan mendongkrak elektabilitas guna meraih kemenangan.

Jauh dari gemuruh pencitraan, pemasaran radikal tidak bisa dibuat-buat atau direkayasa. Gaya pemasaran yang dianut oleh para pemimpin radikal itu sendiri merupakan anti-tesa dari pemasaran tradisional dimana informasi yang diperoleh dari pasar bisa dibiaskan. Saat seorang pemasar radikal menggunakan data yang sudah direkayasa (dengan berbagai alasan) maka ia tidak mampu membuat kebijakan yang tepat.

Saya sudah sedikit menyinggung mengenai gaya “blusukan” yang sudah direkayasa. Dari media kita bisa melihat bahwa pemimpin yang dulu jarang “blusukan” tiba-tiba saja rajin mengunjungi pasar dan kampung-kampung. Berjalan tegak dikawal sejumlah kolega, juga dipayungi karena kepanasan. Tampak dikanan-kiri masyarakat berdiri berjajar menyambut sang pemimpin dengan menggunakan atribut partai dimana sang pemimpin itu menjadi ketuanya. Seolah-olah dekat dengan rakyat. Tetapi apakah benar-benar mampu mengetahui keadaan dan kondisi yang sebenarnya? Bisa jadi tidak!

Maksud saya menulis blusukan tanpa polesan berarti pemimpin itu mau
bergerak memperoleh informasi yang riil. Nyata apa adanya, tanpa dibuat-buat, tanpa persiapan. Dan para pemimpin radikal melakukan hal itu sebagai pintu gerbang untuk membuat sebuah kebijakan yang bisa menjawab kondisi pelanggan atau masyarakat tersebut.

Saya pernah merasakan akibat yang sangat fatal ketika saya tidak memperoleh informasi yang benar dari pelanggan. Saat itu saya memperoleh tugas dari perusahaan untuk menjual peralatan pabrik buatan Jepang. Saya memutuskan untuk mengunjungi pabrik yang sudah saya incar sebelumnya.

Setelah tiba di pabrik, saya menemui seorang kolega di bagian pembelian. Darinya saya memperoleh informasi bahwa mereka sedang merencanakan sebuah pembelian alat berupa Valve atau katup bertekanan tinggi. Alat itu sangat diperlukan untuk mengganti alat serupa yang sudah rusak. Mengingat Valve yang lama sudah tak beredar lagi, pabrik memperbolehkan mengganti alat itu dengan merek yang lain.

Saat itu saya tidak mengunjungi unit yang menjadi user atau pengguna valve. Saya hanya mengandalkan informasi yang saya dapatkan dari kolega di bagian pembelian. Alhasil, saat kami melakukan pengiriman barang karena penawaran kami diterima, pabrik mengembalikan barang karena tidak sesuai dengan spesifikasi. Bagian pembelian tidak memberikan informasi yang cukup jelas mengenai kekuatan tekanan.
Inilah sebuah kesalahan yang harus ditanggung bila informasi yang diterima dari pelanggan tidak utuh. Andai kaki saya bergerak menuju unit pengguna, saya yakin kami tidak salah mengambil keputusan.

Para pemasar radikal memang dilahirkan untuk berhati-hati dengan riset-riset pemasaran. Mereka menggunakan riset dengan mengunjungi pelanggan secara langsung untuk mengetahui pendapat para pelanggan. Saat pemasar ingin menguji idenya, ia akan mengunjungi pelanggan sembari bertanya tentang ide tersebut.

Hal yang sama sepertinya dilakukan oleh Jokowi juga bukan? Saat ingin menguji idenya tentang kampung deret tanah tinggi, ia pergi ke sana. Bertemu masyarakat dengan membawa desain kampung yang akan dibangun. Dengan sabar ia menjelaskan ide-idenya tentang penataan kampung, dan menunggu masyarakat memberikan masukan mengenai ide tersebut.

Anda juga bisa menyaksikan aksi Jokowi saat mengunjungi pasar-pasar yang akan direnovasi. Ia akan “blusukan” ke pasar dengan mempresentasikan desain pasar yang baru. Berbicara langsung dihadapan para pedagang dan meminta masukan mereka mengenai rencana renovasi. Jokowi dalam hal ini menggunakan cara-cara yang dipakai oleh para pemasar radikal.

“Blusukan” Tanpa Aksi: Nothing!

Berkali-kali Jokowi mengatakan arti aktivitas “blusukan” bagi dirinya. Ditengah cemoohan beberapa pihak yang meragukan “blusukan” dapat memberikan manfaat, jokowi bersikukuh dengan aksinya itu. Gaya yang diterapkan saat menjadi walikota solo itu dibawa juga saat menjadi CEO Jakarta.

Bagi para pemasar dan pemimpin radikal, mengunjungi para pelanggan hanyalah sebuah cara untuk mendengarkan dan berbagi ide. Hanya itu saja! Hanya sebuah cara agar para pemasara radikal itu memahami persoalan sebenarnya yang sedang terjadi.

Nah, kalau pemasar radikal itu kembali ke kantor dan mendiamkan saja berbagai informasi yang diperolehnya, “blusukan” hanya menjadi semacam acara seremonial belaka. Tak lebih dan tak kurang.
“Blusukan” akan menjadi bermakna bagi pemasaran bila diikuti dengan sebuah aksi. Apa yang akan dilakukan dengan informasi dan ide yang diperoleh dari pelanggan? Strategi apa yang akan dilakukan? Ide apa yang layak untuk diterapkan? Bauran pemasaran apa yang harus ditinjau kembali?

Kata-kata para pengkritik aksi Jokowi dapat menjadi benar bila Jokowi berhenti menggunakan ide-ide atau informasi yang diperolehnya melalui “blusukan”. Jika ia melakukan hal seperti itu, dugaan “blusukan” hanya sebagai model pencitraan bisa disematkan padanya. Tetapi sebaliknya, aksi “blusukan” akan memiliki makna bila kemudian Jokowi “do something” dengan informasi dan ide yang diperolehnya di lapangan. Sekaligus, menggugurkan pernyataan-pernyataan para pengkritik bahwa “blusukan” hanya membuang-buang waktu semata.
Kita memang tidak bisa menempatkan “blusukan” sebagai alat ukur keberhasilan bahwa seorang pemimpin itu radikal atau tidak, dekat dengan pelanggan atau tidak. Semakin banyak melakukan “blusukan”, bertemu dengan pelanggan atau masyarakat otomatis pemasar atau pemimpin radikal itu sukses. Tidak seperti itu!

Ukuran kesuksesan bisa kita lihat dari sejauh mana aksi atau kebijakan yang diambil oleh seorang pemasar atau pemimpin radikal dari informasi atau ide yang diperolehnya dari “blusukan”. Dengan kata lain, tanpa aksi yang nyata, “blusukan” tak ada artinya!


Ada berita gembira dari dunia perbankan. Per 1 Januari 2013, semua bank penerbit kartu kredit menurunkan suku bunga kartu kredit. Penurunan itu menurut saya sangat signifikan.

Biasanya, kartu kredit mengenakan bunga pinjaman untuk pembelian sebesar 3,5% dan tarik tunai 4%. Namun, Bank Indonesia “memaksa” bank menurunkan suku bunga dibawah 3% setiap bulannya. Jadi, bunga untuk transaksi pembelian dan beban bunga tarik tunai ditetapkan maksimal sebesar 2,95%.

Penurunan ini disambut beragam sikap dari para bankir. Ada yang tenang-tenang saja menghadapi penurunan suku bunga itu, tetapi ada pula yang menggerutu karena kemungkinan bank mengalami penurunan pendapatan bunga dari kartu kredit.

Sementara itu, BI juga tak mau kalah memberikan alasan. Mereka menyatakan bahwa penurunan itu dilakukan untuk melindungi konsumen kartu kredit dan menurunkan risiko.

Kali ini, saya setuju bahwa penurunan suku bunga ini paling tidak mampu menurunkan beban bunga pinjaman yang begitu mencekik. Namun, kalau boleh bermimpi, suku bunga yang ideal untuk bunga kartu kredit ada dikisaran 2,5% setiap bulannya. Bagi pengusaha yang menggunakan kartu kredit sebagai modal usaha, bunga sebesar itu sungguh membantu.

Bagaimana caranya pengusaha menggunakan kartu kredit sebagai modal usaha? silakan klik disini

Yah, moga-moga tahun depan bunganya bisa turun lagi…amin! :)


digibookAkhir-akhir ini kepala saya sedang pusing. Bisnis penerbitan yang saya kelola mengalami penurunan penjualan yang serius. Pertanyaan saya, apakah saya harus berhenti?

Dibisnis penerbitan konvensional, seorang penerbit memang harus cerdas dan ulet menghadapi perkembangan bisnis. Berbagai tantangan selalu menghadang didepan, mulai dari tingginya biaya cetak hingga buku tak laku dijual.

Buku saya memang tak bagus dipenjualan. Retur-nya tinggi sekali, sampai-sampai saya harus menjual buku itu dalam bentuk kiloan. Sungguh mengenaskan bukan? hehehehe

Cuma, saya telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyerah dengan kondisi ini. Saya harus mencari cara baru supaya dapat tetap memproduksi buku dengan biaya yang sangat rendah.

Eh, ternyata ikhtiar saya didengar Tuhan. Ia mengirimkan teman untuk berbicara kepada saya tentang cara memproduksi buku nyaris tanpa biaya dan menjualnya hingga ke seluruh penjuru dunia. Jadi kalau memang buku saya bagus, orang-orang di luar negaraku ini bisa membacanya.

Singkat cerita, saya kini menulis dan memproduksi buku dalam bentuk digital dan menjualnya di toko-toko buku digital seperti ini, ini dan juga ini. Selain scanie, buku-buku digital itu juga dijual di sini .

Saya harus berterimakasih kepada para partner bisnis saya: Itunes, android, dan toko-toko buku Digital. Berkat mereka saya masih bisa bertarung dibisnis penerbitan dangan modal sangat kecil dan penjualan yang luar biasa.

Anda mau coba?

Saya yakin Anda juga bisa, Salam sempurna!


Kartu kredit biasanya dikenal sebagai alat pembayaran barang atau jasa yang bersifat konsumtif. Kartu plastik itu selain mempermudah urusan pembayaran, juga dengan cepat mewujudkan produk yang kita inginkan. Mau televisi atau kulkas baru? mudah saja, pergi ke toko lalu gesekkan kartu kredit anda. Mau mengajak keluarga atau pasangan ke sebuah restoran untuk menikmati makan malam? Ngga usah ragu, kartu kredit bisa membayar apa yang anda makan. Sepertinya, nikmat bener hidup ini, main gesek kartu semua bisa terwujud.

Tapi tunggu dulu! Cerita belum selesai. Anda harus membayar tagihan kartu kredit untuk semua yang anda nikmati. nah, jika tagihan menumpuk segede gunung, maka bisa jadi sebagian besar penghasilan akan tersedot membayar tagihan-tagihan itu. Apesnya lagi, apa yang anda beli dengan kartu kredit merosot nilainya. Barang-barang elektronik akan menurun bahkan nyaris nol nilainya. Sementara apa yang anda makan telah berakhir dijamban.

Nah, bagaimana bila kartu kredit itu kita gunakan untuk menambah penghasilan? Menambah nilai dari apa yang kita beli? Apa bisa? ohhh tentu bisa! Caranya? Dengan mengubahnya menjadi modal usaha!

Begini contohnya. Misalkan, anda memiliki usaha pembuatan kue atau roti. Tentu anda membutuhkan berbagai macam bahan baku seperti telur, tepung terigu dan lain sebagainya bukan? Nah, bahan-bahan baku itu bisa anda beli di outlet-outlet yang menerima pembayaran dengan menggunakan kartu kredit. Kemudian, putarkan terus modal itu dalam bisnis kue tadi.

Bila anda menggesek kartu ditanggal yang pas, maka anda bisa menikmati periode utang yang cukup lama yaitu 30-45 hari. Lalu, Jika seluruh tagihan dibayar penuh sebelum jatuh tempo, maka anda akan terbebas dari biaya bunga alias bunga NOL persen.

Masih banyak jurus-jurus yang bisa digunakan untuk mengubah kartu kredit jadi modal usaha. Semua itu sebenarnya akan dikupas dalam sebuah seminar sehari di KOTA KEDIRI Jawa Timur.

Seminar JURUS MAUT KARTU KREDIT JADI MODAL USAHA

Pembicara : BUDI “KELIK” HERPRASETYO

Tanggal : 29 OKTOBER 2011

Tempat : HOTEL GRAND SURYA KEDIRI

Pukul : 08.00-17.00 wib

Sesi pertama akan mengupas berbagai jurus yang bisa digunakan untuk mengubah kartu kredit jadi modal usaha. Sementara sesi kedua akan mengupas penerapan jurus-jurus tersebut dalam bisnis melalui kasus-kasus nyata yang telah berhasil.Diharapkan peserta dengan mudah mengelola bisnisnya dengan menggunakan modal dari kartu kredit.

Berapa biayanya? cukup dengan 250 ribu per orang. Tidak usah membuang uang berjuta-juta untuk emngikuti seminar yang diberikan secara tuntas ini.Selain itu setiap peserta akan memperoleh secara GRATISS! CD E-Book terbaru berjudul JURUS MAUT KARTU KREDIT JADI MODAL USAHA yang ditulis oleh pembicara.

Nah, tunggu apa lagi? segera dapatkan tiketnya di:

1. Budi Herprasetyo , silakan hubungi saya melalui e-mail ke budihp20@gmail.com

2. Toko cindy tulungagung, CP. Bp Mike 0355-7700058 | 08155051048

3. Hotel Grand Surya Kediri , CP Bp Stefanus 0354 686 000

4.Adora Media, jl Blitar 29 Ngunut Tulungagung 0355-395117

Yuk, belajar mengubah kartu kredit menjadi modal usaha, supaya bisnis anda mampu melesat dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. semoga bermanfaat!

Salam sempurna!


Bicara tentang kartu kredit tidak ada habisnya. Kartu plastik itu telah menggurita jumlah dan penggunanya. Tidak sedikit yang terjebak dalam pusaran utang tak berkesudahan, namun banyak pula yang sukses menggunakannya.

Mungkin Anda sudah tahu bahwa kartu kredit dapat diubah menjadi modal usaha. Dalam blog ini, saya pernah mengupasnya meskipun tidak begitu detail. Menjawab banyak pertanyaan mengenai bagaimana cara mengubaha kartu kredit menjadi modal kerja? Bagaimana mengelola pinjaman itu agar dapat memperoleh keuntungan sekaligus membuat cashflow usaha tetap positif bahkan meningkat? Saya diundang oleh teman-teman dari ADORA MEDIA untuk menggelar sebuah seminar dengan tema : JURUS MAUT KARTU KREDIT JADI MODAL USAHA. Seminar ini akan digelar pada tanggal 29 OKTOBER 2011 di HOtel GRAND SURYA Kota KEDIRI JAWA TIMUR.

Para peserta akan saya ajak untuk mengenal jurus2 mengubah kartu kredit jadi modal usaha dengan mudah. Sekaligus mengelola bisnis agar kartu kredit menjadi senjata pamungkas untuk menggenjot omset dan keuntungan. Selain itu, peserta akan memperoleh Buku terbaru saya yang akan di-launching saat itu JURUS MAUT KARTU KREDIT JADI MODAL USAHA dalam bentuk CD E-Book. Biaya investasi untuk acara yang digelar dari jam 8.00 wib – 17.00 wib ( coffe break + lunch) sebesar Rp 250 ribu saja. Ngga usaha merogoh kantung berjuta-juta untuk mengikuti seminar ini.

Berminat? Silakan hubungi:

1. Pemilik Blog ini alias Budi “Kelik” Herprasetyo dengan cara menghubungi saya pribadi di e-mail: budihp20@gmail.com. Saya akan memberitahukan cara memesannya.

2. Toko Cindy Baby Clotes Tulungagung

3. Tiket Box di Hotel Grand Surya
Jl. Dhoho no 95 KEDIRI
Cp Bp.Stefanus +62 354 686 000

4. Adora Media
jl. raya Blitar 29 Ngunut
Cp Nina/Misty 0355-395117

Oh Ya, di tempat yang sama di Hotel GRAND SURYA, tanggal 30 Oktober 2011, akan diadakan konsultasi pribadi dengan saya bagi yang berminat. Jangan lewatkan seminar terheboh tahun ini!

Seminar serupa akan digelar di kota:

Jogjakarta November 2011
Surabaya Desember 2011
Semarang Januari 2012


Seorang teman bertanya kepada saya,”Darimana kamu belajar bisnis?”. Pertanyaan itu saya jawab dengan tegas,”Saya belajar banyak dari banyak orang, termasuk diantaranya sahabat-sahabat saya yang keturunan cina”.Ya, saya berhutang banyak dengan mereka, sahabat-sahabat saya yang kebetulan keturunan cina.

Di tahun 1993 hingga 1996, saya “nyantrik” disebuah sekolah di Kota Jogjakarta. Sekolah itu bernama Kolese John De Britto. Selama 3 tahun saya memahami benar bahwa perbedaan ras atau suku bukanlah sesuatu yang harus terus menerus dipersoalkan. Saya, yang kebetulan orang jawa, bisa bergaul akrab dengan teman-teman yang kebetulan keturunan cina. Segala suka dan duka kami jalani bersama, tanpa tentu saja mengabaikan perbedaan yang kami miliki secara pribadi.

Adalah teman-teman saya yang keturunan cina itu yang mengajari saya berbisnis kala di De britto. Mereka memberitahu bagaimana berbisnis sticker, atau menjual kaos dan jaket yang bisa dijual kepada teman-teman sekolah. Mereka, memberikan contoh bagaimana memulai sebuah bisnis. Inilah, kelebihan yang mereka miliki, yang dapat saya ambil sebagai sebuah skill yang sangat berguna bagi saya dikelak kemudian hari.

Pengalaman semasa di De Britto terus berlanjut. Ketika saya bekerja sebagai seorang banker, saya bertemu dan berkenalan dengan banyak pengusaha keturunan cina. Mereka, tak segan memberikan berbagai trik dan tips bisnis yang mereka miliki. Bahkan, beberapa kenalan memberikan motivasi luar biasa supaya saya berani mengambil keputusan menjadi seorang pengusaha.

Apa yang saya alami adalah sebuah titik kecil dari perpotongan garis perbedaan yang kita miliki, khususnya mengenai perbedaan suku, ras ataupun agama. Seandainya saja, setiap orang di bangsa ini bisa bekerja sama dengan erat, mengukir dibenaknya bahwa perbedaan itu merupakan sebuah anugerah untuk menggapai sebuah kesuksesan, maka kemandirian ekonomi yang dicita-citakan para founding fathers bangsa ini dapat segera terwujud.

Semoga!

Mau tau ebook-ebook saya? klik link bawah ini

Berani Utang Untuk Investasi Pasti Untung!

Sukses Ubah Kartu Kredit Jadi Modal usaha!